Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Melemah Berdampak Ganda bagi Sektor Pariwisata DIY

Iwan Nurwanto • Senin, 1 Juni 2026 | 22:00 WIB
BIAYA MURAH: Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar membuat kunjungan wisatawan mancanegara naik. Hal ini karena biaya liburan menjadi jauh lebih terajangkau. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
BIAYA MURAH: Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar membuat kunjungan wisatawan mancanegara naik. Hal ini karena biaya liburan menjadi jauh lebih terajangkau. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

JOGJA - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar membawa dampak ganda bagi sektor pariwisata di Jogjakarta. Pada satu sisi, minat wisatawan mancanegara (wisman) datang ke nusantara naik. Namun di sisi lain, berdampak pada biaya operasional pelaku usaha pariwisata yang semakin membengkak.

Ketua DPD Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY Bobby Ardiyanto Setyo Adji mengatakan, menguatnya nilai tukar dolar terhadap rupiah memang menjadi angin segar bagi para wisman. Lantaran membuat biaya liburan ke Indonesia, menjadi jauh lebih terjangkau. "Nilai mata uang mereka menjadi lebih berharga, sehingga dorongan untuk berkunjung memang cukup baik dengan harapan spending mereka juga lebih tinggi," ujar Bobby saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon Senin (1/6).

Baca Juga: Muhammad Iqbal Ingin Bertahan di PSIM Jogja dan Tembus Timnas

Meski begitu, situasi berbeda dapat dirasakan bagi pasar domestik. Bobby menilai kondisi nasional saat ini sedang berada di tengah kondisi inflasi dan kenaikan biaya hidup. Sehingga masyarakat cenderung memilih menahan diri untuk berwisata.

Menurutnya, wisatawan nusantara saat ini lebih memprioritaskan keuangannya untuk mencukupi kebutuhan pokok. Kemudian juga akan lebih sering menabung sebagai bentuk mitigasi di tengah ekonomi yang kurang stabil. Sehingga berwisata bukan menjadi pilihan utama.

Baca Juga: Beri Santunan untuk Keluarga Petugas Damkar Gunungkidul, Bupati Ingatkan Pentingnya Perlindungan Jaminan Sosial dan Jaga Kesehatan

Selain itu, kenaikan dolar juga berdampak pada membengkaknya biaya operasional pelaku industri wisata. Lantaran harga bahan baku atau operasional lain seperti bahan bakar minyak juga ikut meroket. Namun di satu sisi pelaku industri tidak serta merta bisa menaikkan harga jual produk wisata mereka.

"Kami menyadari daya beli masyarakat belum stabil. Teman-teman di industri memilih untuk bertahan dan tidak terburu-buru menaikkan selling price,” beber Bobby.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono mengakui, peningkatan biaya operasional memang menjadi tekanan berat. Sebab hal tersebut cukup berpengaruh terhadap margin keuntungan yang semakin menipis. Namun pengusaha hotel tidak dapat dengan mudah menaikkan harga di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.

Baca Juga: Dispertapa Kulon Progo Temukan Ratusan Hewan Kurban Terjangkit Cacing Hati Selama Idul Adha

Terkait melemahnya nilai tukar rupiah, Deddy melihat memang ada sisi keuntungan dari naiknya jumlah wisman. Hanya saja, daya beli wisatawan domestik ikut terpengaruh. “Pelaku wisata harus pintar-pintar menangkap peluang. Selain menangkap peluang, kita juga harus melihat kondisi masyarakatnya,” tegas Deddy. (inu/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#wisatawan mancanegara (wisman) #biaya operasional #wisman #sektor pariwisata #nilai tukar rupiah