JOGJA - Dampak efisiensi anggaran di lingkup pemerintah masih dirasakan oleh pelaku usaha pariwisata dan transportasi di DIY. Bahkan penurunan permintaan dari sektor pemerintahan mencapai 60 persen selama setahun terakhir.
"Customer-nya dari sektor pemerintahan berkurang. Setahun terakhir 40 sampai 60 persen itu penurunannya,” beber Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Rental Kendaraan Indonesia (Asperda) DIY Aris Purwadi Senin (1/6).
Baca Juga: Muhammad Iqbal Ingin Bertahan di PSIM Jogja dan Tembus Timnas
Menurutnya, sejumlah instansi kini diwajibkan memaksimalkan kendaraan operasional yang dimiliki sehingga kebutuhan menyewa kendaraan dari pihak ketiga semakin berkurang. "Seandainya diberangkatkan pun diwajibkan pakai mobil operasional kantor," ujarnya.
Aris menyebut, kondisi saat ini jauh berbeda dibanding periode 2023 hingga 2024. Saat itu, kegiatan kunjungan, gathering perusahaan, maupun perjalanan dinas masih cukup ramai. Kini banyak agenda yang dikurangi bahkan dibatalkan karena keterbatasan anggaran.
Lesunya permintaan ini pun membuat beberapa pengusaha transportasi sudah gulung tikar. “Yang kuat bertahan, kalau tidak ya gulung tikar," katanya.
Kondisi serupa juga dirasakan oleh sektor meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Hotel-hotel yang memiliki fasilitas ruang pertemuan cukup besar di DIY, masih kesulitan mendapatkan kegiatan dari pemerintah maupun lembaga lain. "Untuk MICE, hotel yang sudah menyiapkan ruang meeting cukup banyak ini belum signifikan digunakan oleh pemerintah maupun instansi yang lain," kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono.
Deddy menjelaskan, penyesuaian anggaran kegiatan turut mengubah pola belanja penyelenggara acara. Jika sebelumnya anggaran konsumsi kegiatan bisa mencapai Rp 150 ribu hingga Rp180 ribu per orang, kini banyak kegiatan dibatasi dengan anggaran hampir separo. "Sekarang maksimal Rp 75 ribu. Dulu minimal Rp150 ribu," rincinya.
Kondisi tersebut membuat sebagian kegiatan beralih ke restoran yang dinilai lebih mampu menyesuaikan kebutuhan anggaran dibanding hotel. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita