JOGJA – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Pemprov DIY memastikan ketersediaan hewan kurban menjelang Idul Adha Rabu (27/5/2026) dalam kondisi aman. Ini berdasar hasil pemantauan yang dilakukan di lima kabupaten/kota. Pemantauan ini menjadi antisipasi juga terhadap potensi kenaikan harga dan meningkatnya permintaan kebutuhan pokok menjelang hari raya.
"Ketersediaan hewan kurban di DIY berada dalam kondisi aman, dan mencukupi kebutuhan bagi masyarakat," ujar Kepala Dinas PUPESDM DIY Anna Rina Herbranti mewakili Sekprov DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti, Jumat (22/5/2026).
Namun demikian, Anna juga mengimbau kepada masyarakat agar tetap rasional dalam berbelanja menjelang momentum Idul Adha. "Masyarakat diharapkan tetap rasional berbelanja, mengutamakan kebutuhan, dan tidak panik menghadapi dinamika harga menjelang hari raya," katanya.
Selain memastikan ketersediaan stok, pemprov juga memperkuat pengawasan kesehatan hewan kurban melalui pemeriksaan veteriner dan pengawasan administrasi kesehatan hewan. Hewan kurban yang diperjualbelikan diwajibkan memenuhi ketentuan kesehatan serta memiliki surat keterangan kesehatan hewan (SKKH).
Sementara itu, Kepala Biro Perekonomian dan SDA Setda DIY Eling Priswanto menjelaskan, dari hasil pemantauan di sejumlah wilayah menunjukkan rantai pasok dan harga hewan kurban relatif stabil.
Pemantauan dilakukan di berbagai titik peternakan, pasar hewan, hingga kelompok ternak di Kabupaten Sleman, Bantul, Gunungkidul, Kota Jogja, dan Kulon Progo.
Baca Juga: DPRD Kulon Progo Minta Aktivitas Truk Tambang Dibatasi, Mencegah Kecelakaan dan Kerusakan Jalan
"Secara umum hasil pemantauan kami sampaikan bahwa kondisi pasokan sangat aman untuk Idul Adha di DIY," ungkap Eling.
Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DPKP DIY Agung Ludiro menyampaikan, untuk tahun ini DIY menerima total enam ekor sapi kurban bantuan presiden (banpres). Di antara lima ekor ke kabupaten/kota, dan sau ekor dibagikan untuk provinsi. “Sementara yang untuk provinsi tahun ini alokasinya ada di Sleman," katanya.
Agung menjelaskan, kondisi sapi kurban bantuan presiden saat ini dalam keadaan sehat setelah melalui serangkaian pemeriksaan kesehatan. Kondisi hewan kurban presiden ini rata-rata bobotnya 900 kilogram dan sudah diambil sampel untuk uji cacingan dan pemeriksaan yang lain. “Saat ini terkondisi, terpantau masih sehat," ujarnya.
Menurutnya, pengawasan kesehatan dilakukan secara rutin tidak hanya pada sapi bantuan presiden, tetapi juga hewan kurban milik gubernur dan wakil gubernur. Adapun, sapi bantuan presiden berasal dari empat kabupaten di DIJ dengan jenis peranakan ongole (PO) dan simmental.
"Karena kota tidak ada sapi yang bobotnya di 900 kilogram. Tapi kalau untuk yang sapi gubernur itu semua diambil dari Kabupaten Sleman. Jenis sapinya ada PO, ada Simmental," jelasnya.
Bahkan, salah satu sapi kurban bantuan presiden memiliki bobot hampir mencapai 1,1 ton dan berasal dari Gunungkidul. "Ada 1 ton, itu di Gunungkidul. Lebih hampir 1,1 tetapi rata-rata 900 kg," bebernya.
Sementara, untuk distribusi, hewan kurban rencananya akan dikirim pada H-1 Idul Adha guna memudahkan penanganan oleh panitia kurban. Di samping itu, Agung juga memastikan proses distribusi hingga penyembelihan akan mendapat pengawalan ketat dari berbagai pihak.
"Dari kami di provinsi, teman teman di kabupaten/ kota maupun juga teman-teman dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates pasti akan mengawal," tambahnya.(iza/wia)