JOGJA - Fenomena geng pelajar kembali menjadi atensi bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja. Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengaku sudah mengantongi dua nama geng pelajar yang sampai saat ini masih aktif melakukan rekrutmen anggota baru.
Hasto mengatakan, nama dua geng pelajar tersebut masih dirahasiakan demi penanganan di lapangan. Namun yang pasti, aktifnya dua geng itu disebabkan pengaruh dari alumni yang terus mendorong untuk melakukan regenerasi.
“Ada dua geng yang kita tengarai aktif merekrut anggota, kemudian juga dipengaruhi oleh senior-seniornya. Tapi ini sifatnya masih kita rahasiakan,” ujar Hasto di Taman Budaya Embung Giwangan, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, geng pelajar yang masih aktif itu memiliki latar belakang dari sekolah jenjang atas seperti SMA atau SMK. Sehingga langkah yang dilakukan pemerintah kota (pemkot) saat ini adalah mencegah agar pelajar SMP berafiliasi atau bergabung dengan geng ketika lulus.
Baca Juga: Oplos LPG Non Subsidi, Pengecer Gas Ilegal di Kota Jogja Rugikan Negara Puluhan Juta
Hasto menilai, intervensi sejak dini merupakan cara paling efektif untuk memutus rantai regenerasi geng yang kerap berujung pada aksi kriminalitas. Namun perlu dilakukan juga kolaborasi dengan aparat penegak hukum seperti kepolisian dan TNI serta warga untuk ikut menjaga keamanan.
Berdasarkan hasil identifikasi awal, pelajar yang ikut sebagai anggota geng biasanya memiliki latar belakang yang bermasalah. Misalnya berasal dari keluarga broken home. Oleh karena itu identifikasi sejak masa pendidikan SMP perlu dilakukan.
“Saya kira SLTP ini tempat strategis untuk mencegah,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja Budi Santosa Asrori menyatakan pihaknya memiliki Jembatan Persahabatan. Sebuah program yang mengumpulkan para pelajar dengan energi berlebih untuk diarahkan melakukan berbagai kegiatan positif oleh sekolah.
Baca Juga: Inter Miami Selangkah Lebih Dekat untuk Amankan Jasa Casemiro dari Manchester United
Meskipun diakui bahwa fenomena kelompok remaja dipengaruhi oleh banyak faktor di luar lingkungan sekolah. Budi menilai dalam hal pencegahan geng pelajar sekolah memiliki peran vital untuk memperbaiki pendidikan karakter anak-anak.
Disamping itu, peran kewilayahan seperti tokoh masyarakat dan kelurahan juga penting untuk mencegah konflik antar geng pecah. Lantaran perselisihan antar geng sekolah biasanya terjadi di luar jam belajar.
“Di Jogja itu kan ada yang namanya Jam Belajar Masyarakat (JBM), itu sebetulnya bagaimana meningkatkan kepedulian masyarakat untuk peduli terhadap pendidikan anak,” beber Mantan Sekretaris Disdikpora Kota Jogja itu. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin