Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dari Stadion ke Ketidakpercayaan: Suporter PSIM Kritik Keras Kasus Korupsi Stadion Mandala Krida Jogja

Fahmi Fahriza • Minggu, 17 Mei 2026 | 21:04 WIB
Seruan aksi usut tuntas kasus korupsi Mandala Krida yang dilakukan oleh suporter PSIM Jogja. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)
Seruan aksi usut tuntas kasus korupsi Mandala Krida yang dilakukan oleh suporter PSIM Jogja. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)

 

JOGJA - Kekecewaan suporter PSIM Jogja kian memuncak menjelang akhir musim kompetisi BRI Super League 2025/2026. Hingga kini, tim kebanggaan mereka masih belum dapat kembali menggunakan Stadion Mandala Krida yang selama ini dianggap sebagai rumah bagi Laskar Mataram.

Sepanjang musim ini, di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, PSIM harus menjalani laga kandang di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul. Meski secara administratif tetap menjadi kandang, banyak suporter menilai atmosfer dan makna yang dirasakan jauh berbeda.

Salah seorang suporter PSIM Roshwan secara tegas mengatakan, Mandala Krida bukan sekadar tempat, tapi marwah dan identitas PSIM. "Bagi saya, Mandala Krida itu rumah. Meski PSIM sempat beberapa tahun pindah ke SSA, keberadaan Mandala sebagai kandang tidak akan terganti oleh stadion lain," ujarnya yang sudah belasan tahun mendukung PSIM, Minggu (17/5).

Ia mengakui, bermain di SSA seperti halnya musim ini, masih bisa menghadirkan nuansa kandang, namun tidak sepenuhnya menggantikan pengalaman yang pernah dirasakan di Mandala Krida. "Secara teknis di SSA mungkin masih kandang, tapi rasanya tidak seperti beberapa tahun silam. Apalagi setelah pernah merasakan momen penting di Mandala," lanjutnya.

Baca Juga: Pastikan Tak Disita, Renovasi Siap Dilanjutkan, Status Stadion Mandala Krida di Tengah Proses Hukum Kasus Korupsi oleh KPK

Bagi sebagian suporter, persoalan Mandala Krida tidak hanya berhenti pada aspek teknis seperti pencahayaan atau fasilitas tempat duduk yang saat ini belum tersedia. Mereka juga melihat kondisi ini sebagai dampak dari tata kelola proyek yang bermasalah. "Menurut saya itu murni kelalaian teknis. Korupsi adalah salah satu bukti dari kelalaian tersebut,"  kata Roshwan.

Di sisi lain, pandangan yang lebih keras disampaikan Mufqi, salah satu suporter PSIM lainnya. Ia menilai persoalan ini mencerminkan kegagalan kolektif para pemangku kepentingan. "Soal Mandala Krida saat ini, semuanya yang berkepentingan tidak becus,"  tegasnya.

Ia juga menyoroti hilangnya kepercayaan publik, bukan hanya terhadap stadion, tetapi terhadap sistem yang seharusnya menjamin penyelenggaraan sepak bola berjalan layak. "Kehilangan ini bukan cuma soal venue atau identitas, tapi juga rasa percaya ke pemangku kepentingan," ujarnya.

Desakan untuk mengusut tuntas dugaan korupsi Mandala Krida terus menguat di kalangan suporter. Namun, terdapat perbedaan pandangan soal prioritas penyelesaian.

Secara pribadi, Roshwan cenderung melihat percepatan renovasi sebagai sebuah kebutuhan mendesak yang harus diutamakan. "Untuk sementara, itu solusi terbaik. Saya pribadi lebih butuh stadionnya segera bisa dipakai,"  katanya.

Sementara itu, Mufqi justru menempatkan penegakan hukum sebagai prioritas utama dalam konteks Mandala Krida saat ini. "Penuntasan hukum dulu. Kalau itu selesai, langkah berikutnya akan lebih mudah," ujarnya.

Lebih lanjut kedua suporter itu juga sama-sama menyoroti minimnya transparansi dari pihak terkait. "Yang saya tahu hanya janji manis yang tidak pernah terwujud. Kesan saya hanya untuk menenangkan suporter," kata Roshwan.

Baca Juga: Tak Bisa Berkandang di Rumah Sendiri, Suporter PSIM Jogja Sindir Korupsi Stadion Mandala Krida

Di lain sisi, Mufqi bahkan menyebut situasi saat ini sebagai sebuah kebuntuan, mulai tingkat bawah hingga atas. "Pemerintah daerah tertutup, KPK tertutup, manajemen klub tertutup, wadah suporter juga tertutup. Deadlock," tegasnya.

Kondisi ini, menurut mereka dikhawatirkan akan mulai berdampak pada performa dan stabilitas tim ke depannya. "Kemungkinan besar PSIM akan kesulitan secara finansial dan berdampak ke performa. Di akhir musim ini saja sudah mulai terlihat," ujar Roshwan.

Namun, Mufqi melihat dampak tersebut hanya sebagai efek lanjutan dari persoalan yang lebih mendasar. "Masalah finansial dan prestasi hanyalah efek. Intinya adalah ketidakbecusan dalam mengelola hajat orang banyak," katanya.

Manajemen PSIM juga belum memberikan pernyataan resmi terkait kondisi Mandala Krida maupun desakan suporter. Ketiadaan sikap itu justru menambah ketidakpastian di tengah harapan suporter agar tim kesayangan mereka bisa segera kembali ke rumah sendiri. (iza/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#Mandala Krida' #stadion sultan agung #Super League #kasus korupsi #PSIM Jogja