
JOGJA - Pemkot Jogja kembali menggulirkan program bedah rumah bagi warga kurang mampu dengan menghadirkan inovasi atap berbahan limbah daur ulang, Minggu (17/5/2026).
Material dari sampah plastik dan bungkus saset itu digunakan pada rumah penerima bantuan untuk mendukung pengurangan sampah sekaligus menciptakan hunian yang lebih nyaman.
Bedah rumah kali ini menyasar dua lokasi berbeda, yakni rumah milik Dwi Wulandari, warga Kampung Kalangan, Pandeyan, Umbulharjo dan rumah milik Emiliana Budi Winarti, warga Ngampilan, Kota Jogja.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, program bedah rumah bukan hanya sekadar memperbaiki bangunan fisik rumah warga, tetapi juga menjadi upaya menghadirkan hunian yang sehat, aman, dan layak bagi masyarakat.
“Rumah yang layak akan mendukung kesehatan dan kesejahteraan keluarga. Karena itu program seperti ini akan terus kita dorong melalui kolaborasi berbagai pihak,” ujarnya di sela menyerahkan bantuan secara simbolis kepada para penerima manfaat.
Menariknya, program bedah rumah kali ini menghadirkan inovasi baru yang ramah lingkungan. Untuk pertama kalinya, rumah penerima bantuan menggunakan atap atau genting berbahan dasar limbah daur ulang yang diproduksi oleh PT JOS.
Material tersebut dibuat dari berbagai sampah bekas seperti botol plastik, kemasan minuman, hingga bungkus saset yang selama ini banyak ditemukan di lingkungan masyarakat.
Hasto menjelaskan, bahan baku limbah tersebut dibeli langsung oleh PT JOS dari masyarakat Kota Jogja. Menurutnya, hal ini membuktikan bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.
“Ini menjadi bukti bahwa sampah kalau dipilah dengan baik bisa membawa berkah bagi masyarakat. Maka saya minta masyarakat terus membiasakan memilah sampah dari rumah tangga,” katanya.
Ia menambahkan, penggunaan material hasil daur ulang tersebut juga menjadi bagian dari upaya Pemkot Jogja dalam mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir sekaligus mendukung ekonomi sirkular di Kota Jogja.
Hasto juga memastikan kualitas genting berbahan limbah daur ulang tersebut sangat kuat dan aman digunakan sebagai material bangunan rumah. Bahkan, pihak produsen berani memberikan garansi hingga 10 tahun untuk penggunaan atap tersebut.
“Ini bukan barang murahan atau kualitas rendah. Justru sudah melalui proses pengujian dan kualitasnya bagus. Bahkan ada garansi sampai 10 tahun,” jelasnya.
Baca Juga: Pembangunan PSEL Tertunda, Pemkab Bantul Optimalisasi TPST dan TPS3R untuk Pengolahan Sampah
Sementara itu, perwakilan PT JOS Prima Kurniawan mengatakan, material atap berbahan limbah daur ulang itu telah melalui berbagai tahapan pengujian ketahanan dan kualitas.
Bahan baku utama berasal dari sampah kemasan seperti bungkus saset, botol minuman plastik, dan berbagai kemasan bekas lainnya yang kemudian diolah menggunakan teknologi tertentu hingga menjadi material bangunan yang kuat dan tahan lama.
“Material ini sudah diuji dan terverifikasi. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kualitasnya,” bebernya.
Prima menambahkan, selain ramah lingkungan, genting berbahan daur ulang tersebut memiliki sejumlah keunggulan dibanding material konvensional.
Salah satunya mampu meredam panas dengan lebih baik sehingga suhu di dalam rumah terasa lebih sejuk.
Tak hanya itu, material tersebut juga mampu mengurangi suara bising saat hujan turun. “Kelebihannya selain lebih ramah lingkungan juga bisa meredam panas dan suara air hujan. Jadi rumah terasa lebih nyaman,” tambahnya. (wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita