JOGJA - Jalan kaki tanpa alas atau yang kini dikenal dengan grounding semakin digemari.
Perilaku yang akrab disebut cekeran ini membiarkan kaki langsung bersentuhan dengan permukaan tanah untuk menghubungkan tubuh dengan elektron bumi.
Salah seorang yang mempraktikkannya adalah Menik Lestari. Dia sebut sebenarnya grounding sudah dilakukan orang-orang dulu.
Tetapi kini terus berkembang bahkan dijadikan salah satu stimulus di tempat penitipan anak.
"Grounding ini sensasinya seperti dipijat. Kaki kena batu itu enak banget karena seperti terapi alami," katanya dihubungi, Jumat (15/5).
Dia mengaku kerap mempraktikkannya saat pagi atau sore hari, karena jika siang hari suasana begitu panas. Biasanya dia berjalan di sekitar rumah yang masih berupa tanah atau rumput.
Bagi mereka yang tidak memiliki fasilitas ini, dia sebut sudah banyak alternatif yang ada. Termasuk menyediakan krikil di dalam rumah untuk berjalan bolak-balik.
Baca Juga: Tak Sesuai Aturan, Satpol PP Bantul Kembali Tertibkan 45 Spanduk dan Rontek
Tidak ada kekhawatiran akan kakinya yang kering atau kasar. Menik menilai jika gejala ini muncul telapak kaki cukup diolesi pelembab.
Hanya saja praktik ini tidak serta-merta bisa dilakukan karena bisa jadi ada tempat yang berisiko dengan adanya duri atau kaca.
Kehati-hatian dalam memilih lokasi tetap jadi prioritas utama. "Anak saya yang balita juga terbiasa tidak pakai alas. Jadi tidak geli atau takut kena rumput karena sudah terstimulasi," tambahnya.
Menurut Menik, grounding memang tengah jadi tren tersendiri, apalagi dengan hadirnya influencer seperti Gobind Vasdev yang terkenal dengan gaya hidup minimalis, termasuk tanpa alas kaki.
Informasi yang diberikan menambah keyakinannya akan manfaat grounding.
Baca Juga: Dokter Sebut Jalan tanpa Alas Kaki Lebih Menyehatkan, tapi Tidak Dianjurkan untuk Penderita Diabes
Hal senada diungkapkan oleh Dema Berliana Arindu. Tidak memakai alas kaki dia yakini bisa menambah fokus berpikir meski sebenarnya dia cukup mengikuti tren fesyen sepatu terkini.
Walau demikian, baginya nyeker atau cekeran tidak bisa dilakukan sembarang tempat, karena akan memberi kesan aneh di masyarakat umum.
Baca Juga: Catatan Menarik PSS Sleman di Musim 2025/2026, Perolehan Gol Tercatat Berasal dari Semua Lini
Dema sendiri harus mencari momen dan waktu yang tepat untuk mempraktikkannya. "Sebenarnya kalau aku pakai sepatu itu kaki panas, jadi kurang nyaman," ujarnya.
Hobinya ini sempat membuat kulit kakinya lebih keras dan mengelupas hingga perih, tetapi dia mengaku tidak kapok
Entah itu dengan permukaan tanah, rumput, bahkan paving blok jika memungkinkan dia akan melepas alas kakinya. (del/laz)
Editor : Herpri Kartun