JOGJA – Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja berupaya menghadirkan 45 sekolah lansia di tiap kelurahan di wilayahnya. Ini sebagai bentuk mewujudkan kalangan lanjut usia (lansia) semakin berdaya dan kualitas hidupnya semakin meningkat.
Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Jogja Herristanti mengatakan, sampai saat ini baru ada 11 sekolah lansia. Terdiri dari sembilan sekolah lansia standar satu dan masing-masing satu sekolah lansia standar dua dan tiga.
“Kami terbuka untuk kerja sama dengan perguruan tinggi, swasta, maupun masyarakat,” ujar Herristanti belum lama ini.
Baca Juga: Laka Laut Menimpa Tiga Nelayan di Pantai Baru, Satu di Antaranya Masih dalam Pencarian
Dia menjelaskan, pemkot sebenarnya memiliki target untuk membangun 45 sekolah lansia. Jumlah ini agar masing-masing kelurahan bisa memiliki. Namun keterbatasan anggaran menjadi kendala utama. Sehingga diperlukan kolaborasi dengan berbagai pihak lintas sektor.
Sebagai informasi, tujuan utama sekolah lansia tidak lain untuk meningkatkan kualitas hidup lansia agar tetap sehat, mandiri, aktif, dan produktif. Hal itu sebagai bentuk respons kondisi demografi Jogja yang memiliki banyak lansia karena angka harapan hidup mencapai sekitar 75,4 tahun.
Dia menyatakan, skema kolaborasi dengan pihak di luar pemerintahan dilakukan dengan sistem gotong royong. Namun kurikulumnya wajib disesuaikan dan minimal beroperasi selama tiga tahun.
Herristanti pun menegaskan, pihak-pihak yang ingin mengembangkan program sekolah lansia di Kota Jogja juga harus memiliki komitmen. Misalnya jangan dimanfaatkan hanya untuk branding tanpa kurikulum yang jelas.
“Karena sudah ada kurikulum dan tahapan yang jelas,” tegasnya.
Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menegaskan kemandirian bagi lansia sangat penting agar mereka tidak dianggap sebagai beban keluarga. Di sisi lain juga untuk meringankan beban generasi sandwich yang menanggung kebutuhan anak dan orang tua sekaligus.
Baca Juga: Go Green Taruparwa Karya Sam Sianata, Pusaka Budaya Bangsa
Menurut Hasto pemerintah memang harus hadir. Karena jika lansia ditempatkan pada posisi bergantung sepenuhnya keluarga, maka dampaknya dapat menghambat kesejahteraan rumah tangga.
“Jika sekolah lansia tidak kita perbanyak, dia (lansia) itu jadi bandul (beban),” beber Mantan Bupati Kulon Progo itu beberapa waktu lalu.
Dalam Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 yang digelar di Benteng Vredeburg Rabu (13/5/2026), Wakil Wali Kota Jogja Wawan Harmawan berharap para lansia memiliki semangat dan jangan merasa sendiri. Lantaran pengalaman para lansia bisa menjadi teladan bagi generasi muda saat ini.
Baca Juga: Pemprov DIY Carikan Dana dari Pemerintah Pusat untuk Renovasi Stadion Mandala Krida
Lebih lanjut, Wawan juga berkomitmen agar para lansia tidak terpinggirkan. Pemkot terus berupaya memberikan ruang bagi para lansia untuk beraktivitas dan berkontribusi di masyarakat. Sekaligus berkolaborasi dengan generasi muda.
“Anak muda punya masa depan, orang berusia atau lansia punya pengalaman. Ini yang harus sinergi dan kolaborasi. Lansia punya kesabaran, punya doa, dan doanya manjur,” pesan Wawan. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita