JOGJA - Pembelajaran teaching factory atau TEFA menjadi materi dalam bimbingan teknis (bimtek) pendampingan penerapan kurikulum SMK se-DIY. Mantan Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Wikan Sakarinto menjelaskan, TEFA menjadi model pembelajaran di SMK dan pendidikan vokasi berbasis produksi atau jasa.
“Mengintegrasikan kurikulum sekolah dengan standar industri nyata,” ujar Wikan. Penjelasan itu disampaikan Wikan di depan sejumlah wakil kepala sekolah bidang kurikulum SMK se-DIY yang menjadi peserta bimtek di Hotel Ibis Yogyakarta Jalan Adisutjipto pada Jumat (8/5) malam. Bimtek diadakan Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY.
Lebih jauh dikatakan Wikan, pembelajaran TEFA merupakan kasta tertinggi di pendidikan vokasi. Sebab, implementasinya paling sulit. Fondasi utamanya merupakan mindset dari setiap siswa dan guru pengajarnya. "Goals-nya, membangun bisnis berkelanjutan sehingga ekosistem industri dapat tercipta mulai dari tingkat sekolah," katanya.
Wikan melihat fakta di lapangan banyak guru masih berjalan sendiri-sendiri dan menerapkan metode pembelajaran konvensional. Di antaranya, seperti penugasan, teori tanpa praktik, dan sebagainya. " Gambaran metode pembelajaran TEFA menempatkan guru dan siswa sebagai project manager, marketer, sekaligus produsen atau penyedia barang/jasa,” terang pendiri dan direktur dua kampus vokasi Politeknik Mitra Industri, MM2100, Bekasi, dan Akademi Inovasi Indonesia, Salatiga, ini.
Dia memberikan ilustrasi sekolah vokasi yang mendirikan jasa bengkel, restoran, hingga hotel yang ekosistemnya sudah berjalan baik. TEFA bisa menghasilkan pendapatan ratusan juta hingga miliaran rupiah. “Model TEFA merupakan jati diri sekolah vokasi," paparnya. Contoh seperti itu telah berlangsung di Akademi Inovasi Indonesia, Salatiga,
TEFA sudah bisa menghasilkan omzet ratusan juta per bulan. Meski demikian, Wikan mengingatkan, tujuan utama TEFA bukan jumlah omzet. Tapi siswa yang memiliki karakter. Omzet hanya dampak nyata dari ekosistem TEFA yang terbangun. "Penggemblengan dilakukan dengan proyek nyata ketemu konsumen. Tantangan bukan hanya di kelas. Soft skill yang baik, misalnya komunikasi, critical thinking, kolaborasi, dan jaringan yang dibutuhkan," paparnya.
Selain Bimtek Pendampingan Penerapan Kurikulum SMK Se-DIY, di lokasi yang sama juga berlangsung Bimtek Aplikasi Dapodik bagi Operator dan Sekolah SMK DIY. Narasumber yang tampil Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan Muhammad Nur Rizal. Materi yang disampaikan seputar Paradoks Pendidikan Vokasi Indonesia.
Hari berikutnya pada Sabtu (9/5) dilanjutkan dengan pemateri Direktur SMK Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Dr. Arie Wibowo Khurniawan. Dia mengungkapkan, dunia pendidikan vokasi saat ini berada dalam situasi penuh ketidakpastian akibat percepatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
"Kita berada di situasi yang tidak bisa diterka. Kalau tidak diantisipasi, kita tidak bisa menyiapkan diri menghadapi pekerjaan-pekerjaan baru akibat perkembangan teknologi," ingatnya. Arie juga menyoroti perubahan komposisi tenaga pengajar. Banyak guru vokasi berpengalaman telah pensiun. Digantikan tenaga baru yang masih membutuhkan peningkatan kompetensi.
Selain itu, perubahan teknologi juga membawa dampak ganda. Menciptakan peluang sekaligus menggeser pekerjaan lama. "Jangan sampai kita mengajar pembelajaran masa lalu untuk membekali anak menghadapi masa depan," tandas Arie.
Salah satu hambatan terbesar dalam transformasi SMK terletak pada pola pikir pimpinan sekolah. Dari diskusi dengan para kepala sekolah SMK se-DIY, Arie percaya kepala sekolah punya peranan penting menentukan arah dan fokus sekolahnya. "Kalau mindset kepala sekolah tidak berubah, tak akan muncul pendekatan baru dalam pembelajaran," katanya.
Ditambahkan, peningkatan kualitas lebih penting dibandingkan ekspansi jumlah sekolah. SMK, lanjutnya, harus memastikan standar pendidikan vokasi selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Di tempat sama, Kepala Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY Wiwik Indriyani, menekankan pentingnya keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan penguatan literasi dasar. Dikatakan, teknologi boleh berkembang pesat. “Tapi anak-anak jangan melupakan membaca buku referensi. Literasi harus tetap diperkuat," pinta Wiwik.
Bimtek diikuti para kepala sekolah, pengawas, dan perwakilan guru SMK se-DIY. Kegiatan itu diharapkan menjadi momentum penguatan strategi pengelolaan pendidikan vokasi menuju SMK yang adaptif, relevan, dan berdaya saing global. Wiwik mendorong peningkatan prestasi nonakademik sebagai bagian pengembangan kompetensi siswa secara menyeluruh. "Jangan lupa kita juga perlu menyiapkan lulusan berdaya saing tinggi," pesannya. (oso/iza/kus)
Editor : Herpri Kartun