JOGJA - Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Jogja memperketat pengawasan kesehatan ternak menjelang Idul Adha untuk mengantisipasi penyebaran penyakit ternak di tengah tingginya lalu lintas hewan kurban. Masyarakat pun diminta lebih selektif membeli ternak dan segera melapor jika menemukan gejala penyakit pada hewan kurban.
Kepala Bidang Perikanan dan Kehewanan DPP Kota Jogja Sri Panggarti mengatakan, ada lima penyakit ternak yang menjadi perhatian utama. Di antaranya penyakit mulut dan kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), antraks, parasit darah, serta Septicaemia Epizootica atau ngorok.
Penyakit tersebut menjadi kewaspadaan karena memiliki tingkat penularan tinggi dan memengaruhi produktivitas hewan ternak. Momentum Idul Adha yang membuat mobilitas ternak lebih tinggi dinilai menjadi salah satu kerawanan.
“Meskipun kondisi di Kota Jogja relatif terkendali, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan,” ujar Panggarti saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Minggu (10/5/2026).
Dia menjelaskan, langkah preventif sejatinya telah dilakukan jauh sebelum menjelang Idul Adha bersama petugas kesehatan hewan. Di antaranya dengan vaksinasi, pemeriksaan kesehatan ternak, pengawasan lalu lintas hewan, hingga edukasi kepada peternak dan pedagang.
Meski demikian, pengawasan di tingkat masyarakat juga perlu dilakukan. Panggarti meminta agar masyarakat selektif dalam membeli hewan kurban. Misalnya wajib membeli hewan dengan nafsu makan baik, tidak demam, tidak keluar lendir berlebihan dari mulut atau hidung, serta tidak terdapat luka maupun benjolan pada tubuh ternak.
Untuk diketahui, kebutuhan ternak di Kota Jogja sendiri mencapai 15 ribu ekor. Mayoritas ternak harus didatangkan dari luar daerah seperti Gunungkidul, Madura, dan Bali karena terbatasnya ketersediaan di tingkat peternak lokal.
“Penting bagi panitia kurban dan masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan ternak dengan gejala sakit agar dapat segera ditangani oleh petugas kesehatan hewan,” imbuhnya.
Sementara itu, peternak dari UD Segar Farm di Kelurahan Pakuncen Sudi Haryoso menyampaikan, terus melakukan pemeriksaan terhadap hewan ternak. Termasuk berkoordinasi dengan pemerintah untuk melakukan pemeriksaan dua minggu sekali.
Mengantisipasi penularan penyakit, dia memastikan kebersihan kandang dan rutin memberikan vitamin hingga lima hari sebelum disembelih. Serta memastikan hewan dalam kondisi sehat sebelum diberikan kepada panitia kurban.
“Besok mau berangkat (disembelih) juga diperiksa dinas. Nanti ada surat dari dinas (surat keterangan kesehatan hewan),” jelasnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita