JOGJA - Program makan bergizi gratis (MBG) yang menjadi langkah strategis pemerintah mencukupi kebutuhan gizi anak Indonesia menjadi perhatian sejumlah pihak.
Petani muda yang tergabung dalam Petani Punk Gunungkidul dan Yayasan Biijana Paksi Sitengsu berharap ada kolaborasi.
Pembina Yayasan Biijana Paksi Sitengsu RM Wahyono Bimarso mengatakan, kolaborasi menjadi bagian penting agar ada intervensi gizi langsung di masyarakat. Lembaganya diklaim mampu menjembatani kesenjangan akses nutrisi dan mengawal kedaulatan pangan dan edukasi gizi di akar rumput.
Wahyono menyatakan, upaya yang dilakukan adalah dengan menyiapkan pilot project berupa Command Center Lumbung Mataram SIMETRIS di Gunungkidul. Program tersebut memiliki beberapa misi utama.
Meliputi pemantauan pengiriman makanan ke sekolah-sekolah, memantau proses persiapan dan waktu memasak setiap hari, memastikan setiap porsi memenuhi standar gizi, dan menyiapkan sistem peringatan otomatis jika ditemukan ketidaksesuaian gizi atau keterlambatan distribusi.
“Kami ingin Gunungkidul menjadi blueprint nasional bagi program yang bersih, transparan, dan berdampak nyata,” ujar Wahyono dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).
Baca Juga: Diminta Kawal Rangkaian Ibadah CJH, Enam Pejabat Eselon Pemkab Kebumen Turut Berangkat Haji
Rencana tersebut disambut baik oleh kalangan petani muda. Koordinator Petani Punk Gunungkidul SiBagz berharap dengan adanya kerja sama tersebut bisa menjadi angin segar bagi para petani muda yang selama ini mengalami kendala pemasaran hasil panen dan masih hanya mengandalkan pengepul.
Dia ingin, kehadiran dapur-dapur MBG bisa menjadi wadah bagi para petani muda untuk menyuplai kebutuhan bahan pangan.
Supaya para petani muda bisa semakin bersemangat untuk ikut serta dalam menjaga ketahanan pangan. “Saya berharap program ini menjadi momentum regenerasi petani,” ungkapnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita