JOGJA - Mendekati Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada akhir bulan nanti masyarakat Kota Jogja diminta untuk selektif dalam pembelian hewan kurban. Terlebih bagi hewan yang berasal dari luar daerah.
Medik Veteriner Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja Imam Abror mengatakan, masyarakat yang ingin membeli hewan kurban wajib memastikan kondisi sapi atau kambing dalam kondisi sehat. Cara yang paling mudah adalah dengan memeriksa surat keterangan kesehatan hewan.
Imam menegaskan, kewaspadaan terhadap terhadap hewan kurban itu perlu dilakukan untuk mengantisipasi temuan penyakit zoonosis atau yang dapat menular dari hewan ke manusia. Sekaligus memastikan pelaksanaan Idul Adha tahun ini berjalan aman.
“Pastikan hewan dilengkapi surat keterangan kesehatan hewan dari daerah asal,” ujar Imam saat dikonfirmasi, Minggu (3/5).
Menurutnya, DPP Kota Jogja juga terus melakukan pengawasan terhadap hewan kurban milik peternak lokal. Pada bulan April lalu sedikitnya 120 hewan kurban jenis kambing dan sapi sudah diperiksa. Hasilnya menunjukkan seluruh hewan dalam kondisi sehat.
Meski begitu, pihaknya tetap mewaspadai potensi penularan penyakit mulut dan kuku (PMK). Sebab penyakit tersebut masuk kategori sangat mudah menular antarhewan dan dapat menyebabkan kematian pada ternak.
Imam memastikan, pihaknya sudah melakukan langkah antisipatif agar ternak di Kota Jogja tidak mudah terserang penyakit. Upaya yang dilakukan dengan pemberian pemeriksaan kesehatan, pemberian obat cacing, serta vitaminisasi pada hewan ternak.
Baca Juga: PSS Sleman Resmi Naik Kasta ke Liga 1, Ini Tanggapan DPRD Sleman untuk Super Elja
“Ini sebagai langkah pencegahan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua kelompok Ternak Sapi Potong Trihandini Rejo di Kemantren Tegalrejo Banardi mengungkapkan, pemberian vitamin dan obat cacing rutin dilakukan setiap tiga bulan sekali. Sementara untuk pencegahan PMK juga sudah dilakukan dengan pengawasan ketat terhadap ternak.
Banardi menilai pendampingan yang dilakukan oleh pemerintah kota (pemkot) sudah cukup membantu peternak. Dia pun berharap program pemberian obat cacing dan vitamin bisa dilakukan dalam periode yang lebih singkat. Misalnya dua bulan sekali.
“Harapan kami program ini (pemberian obat cacing dan vitamin) sifatnya berkelanjutan,” katanya. (inu)
Editor : Sevtia Eka Novarita