JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, potensi cuaca ekstrem seperti puting beliung mengintai selama peralihan musim.
Kepala Kelompok Analisis dan Prakirawan BMKG Yogyakarta International Airport (YIA) Romadi mengatakan, puting beliung berkaitan erat dengan terbentuknya awan cumulonimbus. Selama masa peralihan musim penghujan menjadi kemarau seperti sekarang, awan tersebut akan sering muncul.
“Dari pembentukan awan cumulonimbus itu biasanya dapat muncul potensi cuaca ekstrem seperti angin kencang, hujan lebat, atau puting beliung,” ujar Romadi saat dikonfirmasi, Minggu (3/5).
Adapun awan cumulonimbus biasanya memiliki bentuk melebar dan menjulang tinggi serta kerap berwarna gelap. Awan tersebut terbentuk melalui proses konveksi yang kuat. Yakni udara hangat dan lembab naik dengan cepat ke atmosfer.
Romadi mengakui, kemunculan awan cumulonimbus di masa peralihan musim sering terjadi tiba-tiba. Misalnya pada pagi dan siang hari kondisi cuaca panas terik. Namun memasuki sore hari cuaca bisa berubah menjadi hujan.
“Fenomena puting beliung masih agak sulit untuk diprediksi, yang bisa kami prediksi hanya potensi munculnya awan,” bebernya.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta Feriomex Hutagalung menambahkan, pembentukan awan hujan untuk beberapa hari ke depan diprediksi meningkat. Lantaran terpantau Gelombang Equatorial Rossby yang masih aktif.
Menurutnya, fenomena tersebut memungkinkan adanya peningkatan pertumbuhan hujan di wilayah Pulau Jawa. Apalagi dengan suhu muka air laut yang mencapai 30 derajat celcius dengan kelembaban udara sebesar 50-90 persen.
“Masyarakat kami himbau agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrim serta perubahan cuaca yang signifikan secara tiba tiba,” pesannya. (inu)
Editor : Sevtia Eka Novarita