Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kios Jamu Memiliki Sisi Positif dan Negatif. Bahayanya jika Campur Jamu dengan Obat Kimia,

Adib Lazwar Irkhami • Sabtu, 2 Mei 2026 | 19:23 WIB
Koordinator Jamu Gendong Gabungan Pengusaha (GP) Sutrisno (kiri). Suasana pembuatan jamu. Dokumen pribadi dan Seruni
Koordinator Jamu Gendong Gabungan Pengusaha (GP) Sutrisno (kiri). Suasana pembuatan jamu. Dokumen pribadi dan Seruni

 

JOGJA - Keberadaan kios atau depot jamu dipandang sebagai sinyal positif kembalinya masyarakat ke pola hidup sehat melalui pengobatan tradisional.

 Namun di balik pertumbuhan itu, standardisasi dan edukasi penyajian jamu menjadi catatan penting bagi para pelaku usaha.

Baca Juga: Siapkan Atlet Porda 2027, KONI Kabupaten Sleman Gelar Porkab 2026; Diikuti 1.390 Atlet dan 200 Pelatih

Koordinator Jamu Gendong Gabungan Pengusaha (GP) Jamu Sutrisno mengatakan, kehadiran depot jamu sebenarnya sangat membantu masyarakat.

 Terutama yang beroperasi hingga malam hari.

Dengan adanya kios yang buka hingga larut malam, dapat membantu masyarakat yang tidak sempat bertemu penjual jamu gendong di pagi hari.

"Ini juga menggerakkan ekonomi UMKM kami," jelasnya, Jumat (24/4).

Baca Juga: Kios Jamu Masih Banyak DitemuI di Berbagai Tempat di Jogjakarta; Hadir Berbagai Racikan Baru Hasil Inovasi

Selain itu, lanjut Sutrisno, keberadaan depot jamu merupakan langkah maju untuk mendekatkan pengobatan tradisional ke masyarakat. 

Maka dari itu, dengan adanya kios jamu, berarti banyak orang yang kembali ke pengobatan tradisional.

Namun, menurut pria yang juga menjabat Ketua Desa Wisata Jamu Kiringan, Bantul ini, meski memiliki sisi positif, depot jamu juga memiliki sisi negatif.

Sebab, tak jarang para pemilik kios atau pengelola depot yang nekat mencampur jamu tradisional dengan obat-obatan kimia.

 Sutrisno sendiri mengaku pernah menemui depot yang menambahkan pil pengurang rasa sakit ke dalam jamu pegal linu. "Ini tidak benar.

Jika zat kimia bertemu temulawak, efeknya bisa berbahaya bagi liver. Niatnya mengobati, malah menambah penyakit lain," ungkapnya. 

Oleh karena itu, Sutrisno sendiri berharap depot-depot jamu yang saat ini masih ada bisa bergabung dalam kelompok UMKM. 

Baca Juga: Wadahi Energi Berlebih Anak Muda di Atas Ring, Sembada Fight Championship Siap Digelar di GOR Tridadi  Sleman

Sehingga, mereka mendapatkan bimbingan dari dinas kesehatan maupun Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Edukasi ini penting agar penjual paham cara menyajikan jamu yang baik dan benar (SJBB)," lontarnya. 

Sementara, Ketua Paguyuban Jamu Seruni Putih Murjiati menjelaskan, selain merupakan tempat untuk menjual jamu, depot atau kios juga dapat difungsikan untuk membuat ramuan jamu. 

"Jadi tempat itu sangat efektif untuk para penjual jamu sebenarnya," tandasnya. (ayu/laz)

Editor : Herpri Kartun
#jamu tradisional #jamu gendong #oldies