JOGJA - Di tengah maraknya minuman modern, kios atau depot jamu tradisional masih memiliki relevansi dan pangsa pasar tersendiri. Kini masih banyak ditemui kios jamu, baik di kota maupun di daerah pinggiran Jogjakarta.
Salah satu kios jamu tradisional itu adalah Pak Pri di area Kasihan, Bantul. Usaha yang telah berdiri sejak 1971 ini menjadi bukti bahwa tradisi lama masih memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
Siti Sofa, generasi kedua sekaligus penjual jamu ini mengungkapkan, kios awalnya dirintis oleh ibu mertuanya yang berjualan secara keliling. Dengan cara sederhana, mulai dari digendong hingga menggunakan sepeda.
Usaha itu perlahan berkembang hingga memiliki tempat tetap seperti sekarang.
"Pertama ibu mertua jualan itu digendong, terus pakai sepeda. Dulu jamu belum banyak, malah yang beli sampai rombongan," ujar Siti Sofa, Jumat (24/4).
Sebagai generasi kedua, Siti Sofa melanjutkan usaha ini sejak menikah sekitar 33 tahun lalu. Ia belajar langsung dari ibu mertua dan suaminya, yang sejak muda sudah mendampingi usaha keluarga tersebut.
Seiring perkembangan waktu, variasi jamu pun bertambah. Jika dulu hanya tersedia jenis dasar seperti kunir asem dan pegal linu, kini hadir berbagai racikan baru hasil inovasinya.
"Dulu cuma kunir asem, pegal linu, paitan. Sekarang saya tambah sendiri, ada temulawak, kunir asem gula, sama racikan lain," katanya.
Tak hanya dari sisi produk, perubahan juga terlihat pada cara pemasaran. Jamu yang identik dengan tradisi kini telah masuk ke platform digital seperti GoFood dan Grab Food sejak beberapa tahun terakhir.
"Pas awal-awal ada Gojek langsung daftar. Sekitar 2017 atau 2018 sudah mulai jualan online," ucapnya.
Usaha ini bahkan sempat viral dan menarik perhatian banyak pelanggan, terutama mahasiswa yang datang membeli dalam jumlah besar. "Waktu viral itu dari UGM, UMY, banyak yang ke sini borong.
Sampai ada yang beli kunir asem satu galon buat dibagi-bagi," lanjutnya.
Meski mengikuti perkembangan zaman, proses produksi tetap mempertahankan cara tradisional. Bahan seperti kunyit, jahe, dan kencur diolah secara manual untuk menjaga kualitas rasa.
"Di sini jamunya murni, habis digiling langsung diperas, diracik. Nggak direbus, jadi rasanya beda, lebih kental," jelas Siti Sofa.
Dalam sehari, penjualan bisa mencapai lebih dari 100 gelas, tergantung kondisi cuaca. Harga yang ditawarkan pun masih terjangkau, mulai dari Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per gelas.
"Kalau ramai bisa lebih dari 100 gelas sehari. Dari pagi sudah ada pemasukan, alhamdulillah," katanya.
Lebih dari sekadar usaha, jamu ini juga menjadi sumber penghidupan keluarga.
Dari hasil berjualan, Siti Sofa mampu menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi, bahkan salah satu anaknya kini tinggal di luar negeri.
Kini, usaha tersebut mulai diteruskan ke generasi ketiga, meskipun Siti Sofa masih aktif meracik jamu demi menjaga cita rasa yang sudah dipercaya pelanggan.
"Sekarang sudah saya ajarkan ke anak menantu. Tapi kalau saya di sini, tetap saya yang meracik," ujarnya.
Di tengah perubahan gaya hidup, jamu tradisional dinilai masih memiliki tempat di masyarakat, termasuk di kalangan anak muda.
"Sekarang yang minum jamu itu nggak cuma orang tua, anak muda juga banyak. Biasanya mereka cari yang buat kesehatan, kayak batuk atau buat jaga kondisi badan," ungkapnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun