JOGJA - Seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja diwajibkan untuk memiliki sapu dan arit. Peralatan kebersihan itu juga harus dibawa setiap hari Jumat untuk kegiatan kerja bakti.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, kebijakan tersebut dikeluarkan agar ASN ikut serta dalam menjaga kebersihan lingkungan. Sekaligus menjawab keterbatasan petugas kebersihan yang dimiliki pemkot.
Hasto menekankan, peralatan kebersihan wajib dibeli sendiri oleh ASN dan dibawa ketika kegiatan kerja bakti. Menurutnya, keterlibatan ASN bisa mewujudkan lingkungan kota yang bersih secara berkelanjutan. Pun jumlah ASN di Pemkot Jogja juga mencapai 4.500 orang.
“Silahkan bawa arit dan sapu dan tentu itu beli sendiri. Kalau sudah punya ya bawa dari rumah, tapi jangan tangan kosong. Karena kadang-kadang kalau kerja bakti tidak bawa apa-apa, terus mau apa,” ujar Hasto di sela Apel Gotong Royong yang diselenggarakan di Halaman Balai Kota Jogja, Senin (20/4/2026) sore.
Baca Juga: Krisis Motivasi Belajar, 3.092 Anak di Kabupaten Magelang Tercatat Tidak Sekolah
Mantan bupati Kulon Progo itu juga menegaskan bahwa kehadiran ASN dalam kegiatan kerja bakti tidak hanya sekedar absen dan foto-foto. Namun juga wajib melaksanakan pembersihan agar program gotong royong benar-benar berjalan optimal.
Sehingga absensi bagi ASN yang ikut serta dalam kerja dilakukan secara digital. Lalu kerja bakti itu juga dibagi sebanyak 150 titik dengan tiap titik dilibatkan 30 ASN. Fokus pembersihan meliputi rumput dan sampah liar yang ada di lapangan, pinggir jalan, serta kawasan bantaran sungai.
Hasto memastikan dirinya juga akan turun langsung untuk memantau kinerja ASN dalam bersih-bersih lingkungan. Serta menugaskan jajaran staf ahli dan kepala organisasi perangkat daerah (OPD) untuk mengawasi kinerja bawahannya dalam program tersebut.
“Staf ahli, kepala OPD itu nanti keliling mengecek dan dievaluasi. Kalau tetap ada rumputnya (lingkungannya kotor), ya berarti tidak ada gunanya,” tegasnya.
Lebih lanjut, kedepan Pemkot Jogja juga akan melibatkan kalangan pelajar khususnya siswa SMP untuk turut serta dalam kegiatan kerja bakti. Namun penerapannya akan berbeda dengan ASN yang diwajibkan sepekan sekali. Bagi pelajar hanya diminta ikut serta sebulan sekali.
Baca Juga: Pemkab Kulon Progo Gandeng Densus 88 Antisipasi Dampak Buruk Medsos bagi Pelajar
Hasto menilai, keterlibatan pelajar sebulan sekali sudah sangat membantu program gotong royong. Disisi lain juga menjadi upaya edukasi untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
“Anak-anak SMP kalau gotong royong cukup sebulan sekali, itu sudah mencukupi,” katanya.
Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Jogja Dedi Budiono menyampaikan bahwa pihaknya berupaya menjaga konsistensi gerakan kerja bakti. Sebab program tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga konsistensi gerakan Yogyakarta Berhati Nyaman yang selaras dengan program Indonesia Asri.
Baca Juga: Layak Mendunia, Rekatkan Kebudayaan dan Pariwisata
Sebelumnya kalangan ASN didorong untuk menjaga kebersihan kawasan Malioboro dari sampah liar dan puntung rokok. Lewat upaya tersebut diharapkan Malioboro yang menjadi salah satu destinasi wisata favorit tetap nyaman bagi pengunjung maupun wisatawan.
“Kami ingin menjaga konsistensi gerakan ini. Setiap Selasa dan Jumat kami lakukan kerja bakti, baik di kantor maupun di luar kantor,” bebernya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin