JOGJA – Kebijakan efisiensi anggaran membuat pengadaan instalasi hidran kering dan peremajaan selang pemadam kebakaran di Kota Jogja tersendat.
Akibatnya, cakupan hidran baru menjangkau 19 persen dari keseluruhan wilayah, sementara sejumlah peralatan dasar di armada damkar belum terganti.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Jogja Taokhid mengatakan, instalasi hidran kering baru menjangkau 19 kampung dari total 169 kampung.
Angka tersebut menunjukkan bahwa cakupan hidran kering baru menyentuh 19 persen dari keseluruhan wilayah perkampungan di Kota Jogja.
Taokhid mengakui, pengadaan instalasi hidran kering memang menjadi tantangan di tengah efisiensi anggaran.
Lantaran harganya berada di kisaran Rp 2 sampai Rp 3 miliar tergantung luas dan kerentanannya.
Baca Juga: Duh, Dua Belas Mahasiswi Terjebak Dalam Lift Lantai Empat Kampus Satu UAD, Damkar Turun Tangan
Dia menyebut, pengadaan hidran kering tidak menjadi prioritas di tengah adanya penurunan pagu anggaran untuk tahun depan.
Padahal, keberadaan hidran kering di tingkat wilayah merupakan salah satu indikator kinerja utama dinas pemadam dalam memberikan rasa aman kepada warga.
“Ini tantangan bagi kami karena biayanya memang mahal, sehingga sulit juga untuk menggandeng swasta untuk program CSR (Corporate Social Responsibility),” ujar Taokhid saat ditemui di kantornya, Senin (20/4/2026).
Baca Juga: Ada Permendikbud 75/2016, Disdikpora Kebumen Beri Restu Sekolah Tarik Sumbangan
Selain berdampak pada pengadaan instalasi hidran kering, efisiensi anggaran juga berimbas pada pemenuhan alat pemadam kebakaran dasar seperti selang.
Diakuinya, sampai saat ini selang pada delapan unit mobil pemadam kebakaran belum dilakukan peremajaan.
Lantaran tiap satu unit mobil pemadam membutuhkan setidaknya enam selang.
Baca Juga: Renovasi Jembatan Kewek, Kota Jogja, Mulai Dikerjakan Mei 2026, Target Selesai Desember 2026
Pengadaan selang ini juga terkendala kewajiban penggunaan produk dalam negeri.
Pihaknya dituntut untuk menggunakan produk dalam negeri atau produk dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) tinggi.
Namun secara teknis, kualitas produk tersebut seringkali belum memenuhi standar ketahanan yang dibutuhkan petugas di lapangan.
Baca Juga: Pasca Harga Gas Non-subsidi Naik, Beberapa Masyarakat DIY Berencana Pindah ke Gas Melon
"Kalau kurang baik, selang mudah lepas atau bocor saat tekanan tinggi. Barang impor memang lebih berkualitas, tapi harganya lebih mahal dan proses pengadaannya lebih lama," bebernya.
Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Kota Jogja Bambang Seno Baskoro mendorong agar pelatihan, pendampingan, dan pembinaan kepada warga tentang pencegahan kebakaran perlu berjalan lebih intensif. Terutama pada kawasan padat penduduk.
Seno juga menekankan perlunya pemetaan wilayah rawan kebakaran serta peningkatan sarana keselamatan. Termasuk kesiapan hidran kering di berbagai titik kota.
“Kami dukung kegiatan dinas kebakaran, agar Jogja aman dari kebakaran,” tegas politisi Partai Golkar itu belum lama ini. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita