Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Guru dan Tukang Batu Oleh: Miftakhatul Arbanginah, S.Ag. *)

Adib Lazwar Irkhami • Minggu, 19 April 2026 | 21:05 WIB
 Miftakhatul Arbanginah, S.Ag
Miftakhatul Arbanginah, S.Ag

 

SEBAGAI tukang batu, Parjo pagi itu seperti biasanya datang dan bekerja di salah satu proyek. Ia mulai melakukan aktivitas pukul 08.00 WIB sampai dengan waktu dhuhur. Setelah beristirahat 1 jam, ia mulai lagi bekerja sampai sekitar pukul 16.00 WIB.

Rutinitas seperti itu, menjadi “makanan” sehari-hari Parjo. Dia fokus pada tugas utamanya memasang batu bata dengan adukan semen yang dicampur pasir dan campuran lain yang disiapkan pembantu tukang. Komposisi campurannya sudah ditentukan mandor atau pengawas bangunan.

Demikian juga mandor atau pengawas bangunan, selalu memegang catatan data-data sebagai pegangan melakukan pekerjaan. Mandor punya catatan jumlah campuran semen, pasir, dan lain-lain. Mandor juga membuat catatan lainnya untuk dilaporkan kepada konsultan atau langsung ke perusahaan (PT) tempatnya bekerja.

 Secara administrasi, karena tempat bekerjanya di perusahaan, paling banter Parjo hanya mengisi daftar hadir dan mengenakan pakaian kerja yang sudah ditentukan untuk kenyamanan dan keselamatan. Dia tidak pernah tahu berapa jumlah material yang dikeluarkan atau dihabiskan. Karena dia merasa itu bukan tugasnya dan sudah ada petugas yang menghitungnya.

Proses dan mekanisme kerja yang dilakukan Parjo tersebut menjadikan  dia sebagai tukang batu yang profesional. Karena dia tidak pernah dibebani tugas lain yang sebenarnya bukan tugasnya, meskipun itu sekadar ditambahi tugas mencatat (administrasi).

Parjo percaya 100 persen bahwa dia diawasi dan dinilai kinerjanya oleh mandor.  Dia akan sulit untuk manipulasi atau merekayasa apa yang dilakukan, karena masing-masing melakukan pekerjaannya.

 Jika dia ingin memanipulasi jumlah hari kerja ataupun material yang digunakan, ia harus bekerja sama dengan pembantu tukang, serta mandor, dan itu jelas hal yang tidak mungkin berani dilakukan.

Banyak profesi yang proses dan manajemennya mirip tersebut di atas. Mereka fokus kepada tugas utamanya yang baku. Mereka tidak terbebani pekerjaan sampingan yang lain. Andaikata ada perbedaan, mungkin hanya terletak pada sistem atau prosedurnya, tetapi tidak mempengaruhi tugas utamanya.

Meskipun tidak bisa diperbandingkan dan mungkin bisa diperdebatkan, profesi tukang batu memiliki kesamaan dalam pengertian bahwa masing-masing memiliki tugas pokok.

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi siswa pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

 Jika melihat definisi di atas, guru secara profesional harus fokus pada peserta didik. Aktivitasnya harus mengarah agar anak didik berkembang lebih baik sesuai dengan harapan. Kondisi saat ini banyak keluhan guru yang terbebani tugas sampingan, terutama tugas administratif.

 Tugas sampingan itu ada yang sifatnya resmi karena diatur ketentuan peraturan perundang-undangan, misalnya tugas wali kelas, aktivitas kesiswaan seperti pembina OSIS atau ekstra kurikuler (ekskul), dan lain-lain. Tetapi banyak juga yang bersifat sampingan yang dikarenakan situasi dan kondisi.

 Berbagai bentuk tugas sampingan yang membebani guru, kebanyakan berasal dari beban administrasi, dan tuntutan birokrasi yang terus meningkat. Sebagai contoh menyiapkan administrasi akreditasi, administrasi keuangan (beasiswa) dan lain-lain. Tugas-tugas tambahan itu jika tidak proporsional bisa berdampak negatif. Misalnya kualitas pengajaran menjadi menurun, kurang fokus pada pengembangan profesional, pengelolaan kelas yang tidak maksimal, dan kurang bisa berinteraksi mendalam dengan siswa.

Guru jadi mudah lelah secara fisik, mental dan emosional yang bisa berujung pada stres. Hal ini dapat menurunkan kualitas pengajaran dan motivasi guru yang bersangkutan untuk bekerja.

Terhadap problem itu, penentu kebijakan sudah tahu dan solusi apa yang seharusnya dilakukan. Sebab sudah disuarakan oleh sebagian guru. Pemerintah melalui program, seperti Kurikulum Merdeka, telah berupaya mengurangi beban administrasi guru agar bisa lebih fokus pada kegiatan belajar mengajar.

 Namun, tantangan di lapangan masih besar dan memerlukan dukungan dari semua pihak. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk anak didik. Jangan pernah lelah untuk berbuat yang terbaik bagi sekolah kita, karena itu merupakan sawah ladang kita, dan jangan pernah berhenti untuk mencintai Indonesia. (laz)

*) Penulis Adalah Guru MTsN 3 Sleman

   

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Herpri Kartun
#tukang batu #Pekerja Kasar #MTsN 3 Sleman #kuli bangunan