JOGJA - Kasus Azizah Candrasari, seorang gadis berusia 6,5 yang terpaksa membantu ayahnya mencari barang bekas untuk mencukupi ekonomi keluarga menjadi tamparan keras bagi Pemerintah kota (Pemkot) Jogja.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo meminta agar pemangku wilayah lebih jeli dan proaktif terhadap kondisi warganya.
Hasto mengatakan, munculnya kasus Azizah karena masalah administratif. Sebab ayahnya Hermanto tidak terdaftar sebagai warga Kota Jogja.
Baca Juga: Gelar Muscab, Ida Fauziyah Minta Kader PKB KebumenTak Larut di Zona Nyaman
Namun merupakan warga Kabupaten Bantul, tepatnya Dusun Jomblangan, Kalurahan Banguntapan.
Sementara domisilinya di Kampung Mrican, Giwangan, Umbulharjo.
Hasto menyebut, kondisi itu yang membuat Hermanto dan kedua anaknya tidak masuk dalam database Pemkot Jogja.
Baca Juga: Baru Awal Tahun, Ratusan Balita di Kota Jogja Terserang Pneumonia: Begini Cara Mencegahnya!
Bahkan di tingkat RT, RW, hingga kelurahan merasa tidak memiliki warga yang kondisi ekonominya memprihatinkan dan memiliki balita yang membutuhkan penanganan.
“Karena memang di situ dia KK-nya masuknya di Jomblangan, Bantul. Sehingga wajarlah kalau RT-RW tidak punya datanya dan tidak ngurus dia,” ujar Hasto saat ditemui usai meninjau kondisi Azizah dan ayahnya di Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai, Minggu (19/4/2026).
Meski demikian, Bupati Kulon Progo 2011-2019 itu menegaskan, bahwa hal tersebut seharusnya tidak menjadi kendala.
Baca Juga: Gencarkan Razia Malam, Satlantas Gunungkidul Jaring Puluhan Motor Knalpot Blombongan
Dia ingin agar pemerintah bisa hadir membantu siapapun yang membutuhkan kebutuhan dasar tanpa memandang administratif.
Sebab hal tersebut bukan lagi menjadi masalah kebijakan namun kemanusiaan.
Hasto mendorong agar setiap pemangku wilayah bisa lebih jeli dan proaktif untuk memantau kondisi wilayahnya masing-masing.
Dia tidak ingin ada lagi ada anak yang terlantar dan harus bekerja membantu orang tuanya bekerja. Seperti Azizah Candrasari.
“Makanya saya kalau safari, kalau keliling selalu ngomong gitu, selalu saya ngomong. Lurah, mantri atau camat itu, RW, RT mbok itu diutamakan, agar tidak ada lagi nanti Azizah-Azizah lain,” tandasnya
Sebagaimana diketahui, kisah Azizah Candrasari dan ayahnya Hermanto memang menjadi ironi di Jogjakarta.
Baca Juga: Pemilik Bisa Bayar Pajak Kendaraan Tanpa KTP, Tapi Wajib Siap Balik Nama Tahun Depan
Lantaran masih ada anak-anak yang harus bekerja membantu orang tuanya di tengah gemerlapnya predikat kota pendidikan dan kota pariwisata.
Hermanto menceritakan, sehari-hari dirinya bekerja sebagai tukang rosok. Pendapatannya hanya Rp 120 ribu dan baru bisa didapatkan setelah tiga hari mengumpulkan barang bekas untuk dijual.
Perantau asal Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan itu mengaku terpaksa dibantu anaknya untuk mencari barang bekas karena kondisi menderita tumor pada bagian kepala.
Baca Juga: Retret di Akmil selama Lima Hari Rampung, Ketua DPRD Disegarkan Kembali soal Nilai Kebangsaan
Kemudian, anaknya juga tidak memiliki sosok ibu karena sudah ditinggal pergi sejak kecil.
Hermanto mengaku senang akhirnya mendapat perhatian pemerintah. Dia dibantu dalam hal pengobatan dan ditawarkan menjadi warga Kota Jogja agar bisa terdaftar dalam penerima bantuan jaminan kesehatan daerah yang dibiayai melalui APBD.
“Saya sangat senang sekali akhirnya dibantu, terutama yang buat anak-anak saya dan buat pengobatan penyakit saya ini,” katanya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita