Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

DIY Bakal Dilanda Kemarau Panjang, Dinkes Ingatkan Masyarakat untuk Waspada Penyakit ISPA

Agung Dwi Prakoso • Jumat, 17 April 2026 | 20:45 WIB
Pengayuh becak mengenakan masker saat menunggu penumpang di kawasan Malioboro, Kota Jogja Jumat (17/4). Musim kemarau panjang meningkatkan risiko ISPA akibat udara kering, debu, dan polusi. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
Pengayuh becak mengenakan masker saat menunggu penumpang di kawasan Malioboro, Kota Jogja Jumat (17/4). Musim kemarau panjang meningkatkan risiko ISPA akibat udara kering, debu, dan polusi. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

JOGJA - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diprediksi akan dilanda musim kemarau panjang tahun ini. Kondisi tersebut dapat berpotensi memicu naiknya penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY Gregorius Anung Trihadi mengatakan musim kemarau atau kering dengan durasi panjang berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan. Sebab, daya tahan tubuh manusia akan mengalami gangguan apabila tidak dikelola dengan baik.

"Musim kering panjang itu kan panas, banyak terjadi penguapan tubuh. Padahal 70 persen tubuh kita itu air," ujarnya saat dikonfirmasi Jumat (17/4).

Baca Juga: Demung di FIB UGM Dimaling, Pelaku Diduga Sama dengan Pencuri di ISI Surakarta dan ISI Yogyakarta

Masyarakat diimbau untuk menjaga pola makan dan memperbanyak minum untuk menghindari dehidrasi berlebih. Hal itu juga dapat menjaga daya tahan tubuh tetap baik dan tidak gampang terserang penyakit atau virus.

"Beberapa kuman itu juga kemudian tetap ada di sekitar. Kalau kemudian daya tahan tubuh kita rendah, biasanya gampang sekali terkena penyakit," bebernya.

Paparan matahari secara langsung, lanjutnya, juga bisa meningkatkan penguapan tubuh. Terutama bagi masyarakat yang tergolong rentan, seperti lansia dan balita. "Mereka itu mekanisme penyesuaian suhunya tidak bagus," ucapnya.

Baca Juga: Pengamat Akuntansi Sebut PT MTG Tak Bisa Penuhi Tuntutan Karyawan karena Aset Hanya Tersisa Rp 34 Miliar

Gangguan kesehatan yang paling diwaspadai ketika musim kemarau panjang, menurutnya, adalah ISPA. Virus tersebut akan selalu ada baik di musim hujan maupun kemarau. Sebab, virus tersebut bisa mati hanya dalam suhu yang sangat ekstrem. "Kalau suhu lingkungan 40 derajat paling tinggi, tetap saja bisa hidup (virus, Red)," tegasnya.

Kondisi tersebut bisa diperparah dengan polusi udara dan debu yang tinggi. Pembakaran sampah saat musim kemarau juga menyebabkan polusi udara.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Agustinus Ruruh Haryata mengatakan, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dengan periode rawan kekeringan pada Juli-September 2026. Rapat koordinasi menghadapi potensi bencana kekeringan juga telah diselenggarakan dan memprediksi musim kemarau akan dimulai pada dasarian III April dan sebagian wilayah pada dasarian I Mei. "Musim kemarau tahun 2026 diprediksi lebih panjang dengan potensi pengaruh El Niño lemah hingga moderat," ujarnya. (oso)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#musim kemaru #dinkes diy #ispa #DIY #infeksi saluran pernapasan akut