JOGJA - Instansi lintas sektor di DIY mulai melakukan persiapan antisipasi adanya potensi musim kemarau panjang hingga kekeringan.
Salah satu bentuknya berupa penyediaan air bersih yang mulai dipetakan di beberapa wilayah. Khususnya yang berpotensi terdampak kekeringan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Agustinus Ruruh Haryata mengatakan, dukungan air bersih sebanyak 50 tangki disiapkan dari instansi dinas sosial. Juga lumbung sosial untuk mendukung kebutuhan masyarakat.
Baca Juga: Raperda Daerah Istimewa Yogyakarta Tentang Perlindungan Konsumen
"Dinas pertanian dan ketahanan pangan (DPKP) mengoptimalkan pemanfaatan irigasi, pompa air dan jaringan perpipaan untuk efisiensi distribusi air," ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (14/4/2026).
Di samping itu, Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPESDM DIY akan melakukan pengaturan buka-tutup pintu air untuk menjaga ketersediaan air irigasi.
Embung dan waduk dipotimalkan untuk sumber air pertanian. Total embung yang berpotensi dijadikan dukungan air baku sekitar 92 titik.
"Saat ini sudah ada 30-40 titik sumur bor air dalam yang satu sumur bisa melayani sekitar 45 kartu keluarga (KK)," katanya.
Baca Juga: Kontes Layanan Honda Regional (KLHR) 2026, Astra Motor Yogyakarta Siapkan Kandidat Layanan Terbaik
Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) Wilayah DIY juga menyediakan tujuh unit tangki air dan hidran umum.
PMI DIY menyediakan dua unit tangki air. Kemudian masing-masing BPBD kabupaten/kota juga menyediakan tangki air.
BPBD Gunungkidul telah menyediakan 1.500 tangki air pada Juni tahun ini, Bantul 400 tangki air, dan Kulon Progo 20 tangki air,
"Banyak dinas lainnya juga akan mendukung sesuai dengan tugasnya," jelasnya.
Baca Juga: Buka Kanal Aduan Pelayanan Pariwisata, Pemkab Gunungkidul Ingatkan Petugas Lapangan agar Disiplin Layani Wisatawan
Musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih panjang. Berdasarkan informasi dari BMKG, terdapat peluang berkembangnya fenomena El Nino kategori lemah hingga moderat pada pertengahan 2026.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan meteorologis, hidrologis, pertanian, serta berdampak terhadap ketersediaan air bersih masyarakat.
"Jika El Nino berkembang, maka suplai uap air berpotensi berkurang sehingga curah hujan menjadi lebih rendah dari normal," terangnya.
Baca Juga: Mobilisasi ASN Demi Konten, Pemkab Kulon Progo Munculkan Surat Edaran ASN Bermedsos Untuk Dukung Pemerintah
BMKG juga memprediksi awal musim kemarau terjadi pada dasarian III April 2026. Di sebagian wilayah terjadi pada dasarian I Mei 2026.
"Secara umum, awal musim kemarau bersifat normal hingga maju satu dasarian," ucapnya.
Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Kemudian, potensi kekeringan diperkirakan meningkat pada periode Juli-September 2026.
Akhir musim kemarau diprediksi terjadi pada dasarian I November 2026, sebagian wilayah pada dasarian II Oktober 2026.
"Durasi musim kemarau diperkirakan berlangsung selama 16–21 dasarian," bebernya.
BMKG juga memprediksi wilayah Kulon Progo bagian utara yakni Samigaluh dan Kalibawang serta Gunungkidul bagian tengah dan selatan maju satu dasarian.
Baca Juga: Punya Puluhan Ribu dan 6 Juta Lebih Anggota, Koperasi di Jateng Digadang Jadi Penguat Ekonomi Rakyat
Kemudian Sleman bagian selatan, Kota Jogja, Bantul bagian utara dan timur malah diprediksi mundur satu dasarian.
"Meskipun memasuki musim kemarau, potensi bencana hidrometeorologi masih dapat terjadi pada masa pancaroba," sambung dia.
Rekomendasi yang diberikan sektor pertanian perlu melakukan penyesuaian pola tanam.
Optimalisasi pengelolaan sumber daya air secara efisien, antisipasi potensi keterlambatan awal musim hujan, dan peningkatan kesiapsiagaan pada wilayah rawan kekeringan meteorologis. (oso/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita