JOGJA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprediksi hujan lebat yang terjadi di DIY akan berlangsung hingga Selasa (14/4). Kondisi ini masih berkaitan dengan dengan fase peralihan musim atau pancaroba menuju kemarau.
"Angin di wilayah selatan ekuator mulai bertiup dari timur, yang mengindikasikan monsun Asia mulai melemah," beber Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas Sabtu (11/4).
Ia menambahkan, meski indikator global seperti El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Dipole Mode Indeks berada dalam kondisi netral, potensi hujan tetap ada terutama pada masa transisi musim.
Baca Juga: Pabrik Gula Madukismo Kembali Nikahkan Kyai Tumpak dan Nyai Pethak, Tandai Awal Penggilingan
Sebelumnya, BMKG memprediksi awal musim kemarau di DIY akan terjadi pada dasarian III April hingga dasarian I Mei. Dengan karakter cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan lebat disertai angin kencang dan petir. "Serta melakukan mitigasi seperti membersihkan saluran air dan memastikan lingkungan aman dari potensi dampak cuaca ekstrem," pesannya.
Sementara itu, Prakirawan Cuaca BMKG Yogyakarta Slamet Riyadi menambahkan, bahwa hujan yang terjadi belakangan ini salah satunya dipicu oleh faktor regional di Samudera Hindia.
"Ada tekanan rendah di Samudera Hindia barat daya Bengkulu, jadi membentuk pola angin konvergen dan belokan angin di wilayah Jawa, termasuk DIY, yang memicu pertumbuhan awan," jelasnya.
Baca Juga: Prediksi Skor Liverpool vs Fulham Premier League Sabtu 11 April 2026, Mampukah The Reds Bangkit?
Ia menyebut, bahwa kondisi tersebut berpotensi memicu hujan dengan intensitas bervariasi dalam beberapa hari ke depan. "Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, kadang lebat, masih berpotensi terjadi setidaknya sampai 14 April," ujarnya.
Lebih lanjut, setelah periode tersebut, intensitas hujan diperkirakan akan mulai menurun dan lebih stabil. "Mulai tanggal 15 April ke depan," tambahnya.
Selain itu, ia juga menegaskan bahwa kondisi saat ini merupakan fase pancaroba. Ditandai dengan perubahan cuaca yang cepat dan potensi cuaca ekstrem berdurasi singkat. "Memang saat ini masih fase pancaroba menuju musim kemarau," kata Slamet. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita