Bersaing Ketat! Polda DIY Catat 1.407 Pendaftar Berebut Kursi Polisi dalam Seleksi Polri 2026, Jalur Bintara Paling Diminati Pendaftar
Agung Dwi Prakoso• Jumat, 10 April 2026 | 20:09 WIB
Ilustrasi Polri.JOGJA - Polda DIY mencatat 1.407 pendaftar dalam seleksi penerimaan anggota Polri 2026, dengan 272 di antaranya perempuan. Tingginya animo didominasi jalur Bintara, sementara proses seleksi kini memasuki tahap pemeriksaan administrasi awal dengan pengawasan ketat.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda DIY Kombes Pol Ihsan mengatakan, pendaftaran penerimaan anggota Polri tahun ini telah dibuka sejak 9 hingga 30 Maret 2026.
Pendaftaran dilakukan secara online dan melalui verifikasi administrasi di tingkat panitia daerah.
"Animo pendaftaran mencapai 1.407 orang, terdiri dari 1.135 pria dan 272 wanita," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Radar Jogja, Jumat (10/4/2026).Data tersebut dihimpun dari Biro SDM Polda DIY. Ada tiga jalur seleksi meliputi Taruna/Taruni, Bintara Polri dan Tamtama Polri. Masing-masing jumlah pendaftar yakni Taruna/Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) sebanyak 102 orang yang terbagi 90 pria dan 12 wanita.
Kemudian jalur Bintara Polri tercatat 1.241 pendaftar 981 pria dan 260 wanita. "Tamtama Polri terdapat 64 pendaftar online yang seluruhnya pria," bebernya.
Polda DIY melibatkan unsur pengawas internal Itwasda Polda DIJ dan Bidpropam Polda DIY. Hal tersebut bertujuan untuk menjamin proses seleksi yang bersih, transparan, akuntabel, dan humanis.Pengawasan eksternal melibatkan sejumlah lembaga independen seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Paksi Katon, UPTD Metrologi Kabupaten Sleman, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan dan Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, serta Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V DIJ, Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) DIJ serta Pusat Studi Forensika Digital UII.Baca Juga: Hasil Indonesia vs Vietnam ASEAN Futsal Championship 2026: Skuad Garuda Terbang ke Final
Selama proses seleksi, Polda DIY juga memanfaatkan teknologi informasi untuk menjamin objektivitas penilaian. Misalnya, pada pelaksanaan tes psikologi dan akademik yang menggunakan sistem computer assisted test (CAT), sehingga hasil tes dapat diketahui secara cepat dan transparan.“Kami mengimbau apabila masyarakat mengetahui adanya indikasi kecurangan dalam proses rekrutmen ini dapat menginformasikan kepada kami," imbaunya. (oso/wia) Editor : Winda Atika Ira Puspita