JOGJA- Musim kemarau diprediksi akan datang bersama dengan cuaca El Nino Godzila yang berpotensi menyebabkan kekeringan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pertanian akan menjadi sektor yang paling terdampak apabila prediksi tersebut benar adanya. Beberapa upaya antisipasi punn telah dilakukan.
Kepala Dinas Petanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Aris Eko Nugroho mengatakan telah melakukan koordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dann lembaga terkait untuk mendiskusikan adanya potensi kekeringan hingga El Nino Godzila. Hal tersebut untuk menemukan dan mengenali kesiapan dari masing-masing lembaga.
"Menemukan dan mengenali terlebih dahulu, kaitannya dengan pendanaan nanti," ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (8/4/2026).
Ia menceritakan, fenomena kekeringan dan El Nino pernah terjadi di DIY pada tahun 2023. Kondisi saat itu menyebabkan musim tanam mundur di tahun setelahnya. Sehingga dalam satu tahun terjadi dua kali musim tanam. Peristiwa itu menjadi pengalaman yang berharga bagi Pemprov DIY untuk menghadapi potensi cuaca yang sama di tahun ini.
Baca Juga: Prediksi Skor Braga vs Real Betis Europa League Rabu 8 April 2026 Kick Off 23.45 WIB
"Walaupun El Nino pada saat ini memang diprediksi lebih besar daripada di tahun 2023," bebernya.
Pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada para kelompok tani di DIY untuk menyampaikan beberapa upaya yang bisa dilakukan dalam mengantisipasi ancaman El Niño Godzilla tersebut. Di antaranya adalah mengoptimalisasi penggunaan alat pertanian dari pemerintah, mulai dari traktor, pompa, dan alat yang berkaitan dengan irigasi.
"Kalau sekarang sudah bisa tanam, para petani agar segera melakukan proses penanaman di lahan masing-masing. Tidak boleh ditunda," katanya.
DPKP DIY juga menyiapkan varietas benih padi jenis Gogo sebagai salah satu antisipasi apabila ada kekeringan.Padi tersebut dinilai mempunyai ketahanan yang baik dalam kondisi air yang minim. Cocok untuk lahan pertanian kering maupun tadah hujan.
Baca Juga: Stefano Cugurra Berharap Dukungan Penuh Suporter Saat PS Barito Putera Menjamu PSS Sleman
"Harapan kami, ada sebagian yang kemudian ditanami dengan padi Gogo, di mana tanaman itu lebih tahan terhadap cuaca yang kemudian diprediksi ini," jelasnya.
Namun, produktivitas padi Gogo juga dinilai tidak bagus apabila kondisi kekeringan ekstrem benar-benar terjadi. Sebab, varietas padi jenis itu juga tidak bisa tumbuh dengan maksimal apabila tidak ada air.
"Kami diminta untuk kemudian mengusulkan kepada pemerintah pusat dalam rangka untuk mengantisipasi itu."semua kalau ada kekeringan yang cukup panjang," katanya.
Daerah di DIY yang paling rawan terdampak El Niño Godzilla adalah Gunungkidul. Sebab, walaupun menjadi daerah penghasil pertanian terbesar se-DIY, daerah tersebut sering mengalami kekeringan.
Baca Juga: Krisis Guru, Pengajar di SMP Negeri 1 Wates Kulon Progo Mengajar 18 Kelas
Terpisah, Guru Besar bidang Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho mengatakan El Niño merupakan bagian dari siklus iklim yang telah berlangsung lama. Namun, perubahan iklim global membuat pola kemunculannya semakin dinamis dan sulit diprediksi. Ia menilai bahwa istilah ‘Godzilla El Niño’ merujuk pada intensitas yang jauh lebih kuat dari biasanya.Kondisi ini membawa konsekuensi serius bagi sektor pertanian yang sangat bergantung pada air.
“Padi dan jagung ini paling terasa dampaknya karena butuh air cukup banyak. Kalau airnya kurang, pertumbuhannya terganggu, bahkan bisa berujung gagal panen,” ujarnya.
Risiko jangka pendek bagi petani menyebabkan hasil panen menurun dan kualitas produksi ikut terdampak. Bayu menuturkan situasi ini berimbas pada pendapatan petani yang sangat bergantung pada hasil panen. Di sisi lain, biaya produksi yang telah dikeluarkan berpotensi tidak kembali.
“Kalau kekeringan terjadi setelah tanam, petani bisa gagal panen. Artinya, biaya yang sudah dikeluarkan itu tidak kembali dan menjadi kerugian,” bebernya.
Selain memperkuat komunikasi antara penyuluh pertanian dan petani, pihaknya juga meminta agar selalu mengikuti informasi cuaca terkini. Hal tersebut untuk menentukan kebijakan penanaman di lapangan.
“Pemerintah melalui BMKG perlu memberikan early warning yang akurat hingga level desa, sementara perguruan tinggi harus terus didorong untuk menghasilkan inovasi varietas tahan kekeringan supaya dampak El Niño bisa ditekan,” tuturnya. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin