JOGJA - Pemprov DIJ meresmikan monumen Komodor Muda Udara (Anumerta) Husein Sastranegara yang berlokasi di dalam Kompleks UPT Rumah Pengasuhan Anak Wiloso Projo, Selasa (7/4). Monumen ini sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas jasa salah satu perintis kekuatan udara Indonesia.
Wakil Gubernur Paku Alam (PA) X mewakili Pemprov DIJ hadir secara langsung dalam peresmian monumen itu. Menurutnya, sosok Husein Sastranegara menunjukkan dedikasi, keberanian, dan semangat juang yang tinggi di masa kemerdekaan Indonesia.
"Kami ingin memastikan bahwa semangat juang para pahlawan tidak hanya dikenang, tetapi juga diwariskan dalam bentuk tindakan nyata untuk membangun bangsa,” ujarnya, Selasa (7/4).
Monumen tersebut menjadi pengingat bagi generasi muda saat ini. Spirit dan perjuangan Komodor Udara Anumerta Husein Sastranegara patut diteladani bagi generasi sekarang.
"Monumen ini menjadi pengingat bagi generasi saat ini dan yang akan datang tentang pentingnya nilai-nilai perjuangan, pengorbanan, dan cinta tanah air," bebernya.
Gubernur Akademi Angkatan Udara (AAU) Marsekal Muda TNI Donald Kasenda yang turut hadir dalam acara peresmian mengatakan, Komodor Udara (Anumerta) Husein Sastranegara merupakan sosok yang separuh hidupnya digunakan untuk menjaga dan menegakkan kedaulatan udara kesatuan Republik Indonesia. Ia lahir di Cianjur 20 Januari 1919 dan gugur 26 September 1946. "Beliau gugur ketika melaksanakan tugas sebagai kusumanegara," paparnya.
Dalam sejarah, pada 26 September 1946 Komodor Udara Husein Sastranegara mendapat tugas melaksanakan uji terbang atau test flight menggunakan pesawat cukiu yang merupakan peninggalan Jepang di era perang dunia ke-2. Pesawat itu rencananya untuk membawa Perdana Menteri Sultan Sjahrir dari Jogja ke Malang dalam rangka mendukung kelangsungan pemerintahan Republik Indonesia yang saat itu masih berada dalam suasana revolusi dan penuh keterbatasan.
"Tugas tersebut merupakan misi penting dan sangat strategis yang mencerminkan besarnya tanggung jawab dan kepercayaan negara kepada beliau,” katanya.
Saat test flight itu, Pesawat Cukiu mengalami kerusakan mesin dan jatuh di Gowongan Lor, Kota Jogja. Kecelakaan menyebabkan Komodor Udara Husein Sastranegara gugur bersama teknisi pesawat, Sersan Mayor Udara Rukidi.
"Peristiwa itu bukan sekadar sebuah tragedi, melainkan telah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah TNI Angkatan Udara," ucapnya.
Komodor Udara Husein Sastranegara gugur dalam usia 27 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara di Semaki, Jogja. Meski pengabdiannya tergolong singkat, sekitar satu tahun setelah berdirinya Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), semangat pengabdian dan perjuangannya telah menjadi teladan bagi generasi muda penerus bangsa. (oso/laz)