JOGJA - Kenaikan harga plastik kemasan yang mencapai dua kali lipat menyebabkan para pelaku UMKM di DIJ menjerit. Mereka harus memutar otak dan legawa mengurangi keuntungan agar dagangannya tetap laku.
Salah satu pelaku UMKM jasa sablon plastik kemasan asal Sleman, Heri Kurniawan, mengatakan dampak kenaikan harga plastik sangat terasa baginya. Kenaikan itu terjadi pasca Lebaran, tepatnya mulai bulan April.
"Aku dapet info mau naik itu sebelum Lebaran. Makanya aku udah kulakan agak banyak waktu itu," ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (6/4).
Menurutnya, kenaikan harga kali ini mencetak rekor tertinggi selama 10 tahun dirinya menggeluti usaha tersebut. Sebagai contoh, plastik jenis ziplock yang biasanya dihargai Rp 96 ribu per seratus biji, kini naik menjadi Rp 125 ribu.
"Itu sudah paling murah, tergantung suplliernya juga. Ada yang jual Rp 130 sampai Rp 140 ribu," kata pemilik jasa sablon plastik JumPro itu.
Terakhir pembelian plastik ia lakukan pada hari Jumat (3/4) dan mendapatkan harga Rp 125 ribu. Kenaikan tersebut dinilai tidak masuk akal. Dirinya harus memutar otak dan terpaksa menaikkan harga jual produk.
"Ziplock sablon sebelumnya Rp 150 ribu per 100 biji, sekarang tak jual bisa nyampe Rp 185 ribu," katanya.
Dampak yang paling dirasakan adalah adanya penurunan jumlah produksi sablon plastik. Harga jual yang tinggi membuat para konsumen mengurangi jumlah pesanannya.
"Ada yang biasa pesan 300 biji, karena harga naik jadi pesan 200 biji. Secara umum bisa 30 persen penurunannya," ucapnya.
Namun, menurutnya kemasan plastik sudah menjadi kebutuhan pokok para pelaku UMKM. Jadi, sementara ini konsumennya tidak berkurang. Ia aktif mengedukasi konsumen bahwa kenaikan tersebut murni berasal dari bahan pokok yang ikut naik.
"Pemerintah seharusnya mempunyai kewajiban untuk menstabilkan harga plastik, semoga ini tidak lama dan harga stabil kembali," jelasnya.
Pedagang jajanan pasar keliling Yanti menambahkan kenaikan harga plastik mencapai 60 persen. Dirinya yang setaip hari mengemas jajanan pasar menggunakan thinwall dan kantong plastik merasa sangat terdampak dengan adanya kenaikan tersebut. "Dulu plastik kiloan itu eceran Rp 3.500, sekarang sampai Rp 6.500," ujarnya.
Kemudian thinwall atau wadah makanan dari plastik bening dulu harganya Rp 19.000 jadi Rp 34.000 untuk harga per rollnya. Ia kemudian terpaksa menaikkan harga beberapa dagangannya sekitar Rp 500 hingga seribu karena untuk menutup biaya produksi yang semakin tinggi.
"Tapi masih banyak dagangan yang tak kiyak-kiyuk supaya tidak menaikkan harganya. Saya tidak tega dan takut malah tidak ada yang jajan nanti kalau saya naikin semua," bebernya.
Diakui, laba yang ia dapat saat ini berkurang sekitat 30 persen dari biasanya. Terkait porsi makanan, ia tetap mempertahankan seperti biasa agar para pembeli tidak kecewa.
Ia hanya berharap agar harga kembali stabil dan kondisi dapat normal. "Yang penting bisa jalan dulu kalau sekarang. Uang tetap muter walaupun sedikit," ucapnya. (oso/laz)
Editor : Herpri Kartun