Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kenaikan Harga Plastik Berpotensi Menyebabkan Efek Domino, Disperindag DIY Khawatirkan UMKM Terancam Gulung Tikar

Agung Dwi Prakoso • Senin, 6 April 2026 | 21:03 WIB
Harga plastik di pasaran melonjak. (MEITIKA CL/RADAR JOGJA)
Harga plastik di pasaran melonjak. (MEITIKA CL/RADAR JOGJA)

JOGJA - Kenaikan harga kemasan plastik berpotensi menyebabkan efek domino hingga gulung tikar bagi pelaku usaha mikro kecil dan  menengah (UMKM). Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) DIJ menganggap kenaikan ini menjadi ancaman yang serius.

"Beberapa literatur dan analisis nasional menunjukkan bahwa jika biaya kemasan membengkak dan tidak disikapi, risiko paling nyata adalah penutupan usaha kecil (gulung tikar) atau pengurangan jam kerja/tenaga kerja untuk mengurangi biaya produksi," ujar Kepala Disperindag DIJ Yuna Pancawati saat dikonfirmasi, Senin (6/4).

Berdasarkan data yang ia dapat, kenaikan tersebut saat ini belum menjadi penyebab utama inflasi jangka bulanan di DIJ. Sebab, inflasi saat ini banyak ditopang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. "Kenaikan harga kemasan berpotensi memperkuat tekanan ini jika pelaku F&B terpaksa menyesuaikan harga jual ke konsumen," imbuhnya.

Baca Juga: Harga Plastik Naik Selangit, Pelaku UMKM di Jogja Menjerit, Rela Mengurangi Untung agar Tak Buntung

Langkah yang akan dilaksanakan oleh Disperindag DIJ cenderung mengantisipasi kenaikan biaya input (termasuk kemasan) sebagai faktor risiko yang perlu dipantau. Sebab, UMKM dinilai sebagai tulang punggung ekonomi daerah.

"Disperindag memandang efek domino dari kenaikan kemasan sebagai ancaman serius bagi ketahanan UMKM. Tetapi untuk inflasi masih salah satu faktor tambahan dibanding pendorong utama," bebernya.

Pihaknya akan melakukan intervensi jangka pendek untuk menstabilkan harga di pasaran, khususnya pada komoditas pangan pokok dan penguatan kapasitas UMKM. Disperindag juga mendukung penyelenggaraan Jogja Food & Beverage Expo, Jogja Pack & Process Expo serta Jogja Printing Expo 2026 yang digelar di JEC, 8-11 April 2026. Acara ini dirancang untuk mempertemukan pelaku UMKM langsung dengan produsen/distributor bahan baku pengemasan dan teknologi processing guna memotong rantai distribusi yang mahal.

Menurutnya, lonjakan harga kemasan plastik kali ini mencapai 100 persen., Misalnya, gelas cup untuk UMKM minuman dari harga Rp 220 menjadi Rp 440 per biji. Kemudian kantong plastik yang naik hampir dua kali lipat. Sejak akhir Maret tahun ini, isu tersebut menjadi perhatian secara nasional.

"Kenaikan hingga 70 persen di Jogja untuk berbagai produk plastik, termasuk kemasan dan toples," ucapnya.

Lonjakan ini dipicu oleh gangguan pasokan global, termasuk dampak penutupan Selat Hormuz yang meningkatkan biaya logistik, energi, dan bahan baku plastik. Produksi industri hulu plastik domestik turun hingga sepertiga kapasitas, menyebabkan harga naik 30-60 persen di tingkat produsen dan hingga 100 persen di pedagang.

Baca Juga: Harga Plastik Meroket Dua Kali Lipat, Pedagang Pasar Beringharjo Jogja Kebingungan

"Pedagang di Jogja melaporkan kenaikan harga seragam di semua jenis plastik karena penyesuaian dari pabrik," tambahnya.

Saat ini, lanjutnya, kelangkaan kemungkinan dipicu oleh ketergantungan impor bahan baku dan distribusi grosir lokal yang terganggu, mirip kasus nasional di mana stok minim memaksa pedagang menaikkan harga secara spekulatif. Kenaikan harga kemasan (plastik, botol, kantong, wadah) memperbesar struktur biaya produksi, sehingga margin keuntungan UMKM F&B yang sudah tipis makin terkikis.

"Banyak pelaku usaha mikro enggan langsung menaikkan harga jual karena takut kehilangan pelanggan, sehingga menanggung sendiri kenaikan biaya hingga titik tidak lagi berkelanjutan secara finansial," katanya. (oso/laz)

Editor : Herpri Kartun
#plastik #UMKM #distributor #Disperindag #komoditas