JOGJA - Sistem pasaran Jawa seperti legi, pahing, pon, wage, dan kliwon selama ini kerap dipahami sekadar sebagai hitungan hari dalam tradisi Jawa. Namun di balik itu, terdapat sistem pengetahuan kompleks yang mencerminkan kecerdasan masyarakat Jawa dalam mengelola kehidupan.
Dosen Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) Dr Sita Hidayah menjelaskan, pasaran Jawa merupakan bagian dari sistem kalender yang lahir dari upaya harmonisasi budaya dan agama pada masa lampau. "Logikanya waktu itu, Sultan Agung mencoba mendamaikan dua sistem kalender yang berbeda. Antara kalender Hindu dan kalender Hijriah," ujarnya, Sabtu (4/4).
Baca Juga: Dulu Dianggap Mistis, Kini Praktik Hipnoterapi Diakui Ilmiah dan Disertifikasi di UGM
Menurutnya, sistem tersebut menggabungkan dua siklus waktu, yakni siklus tujuh hari atau saptawara dan lima hari atau pancawara. Kombinasi keduanya melahirkan penanggalan khas seperti Senin Pahing atau Rabu Legi yang masih dikenal hingga kini.
Secara garis besar, Sita menegaskan, pasaran Jawa tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga menjadi dasar dalam menentukan berbagai aspek kehidupan, mulai dari pertanian hingga aktivitas ekonomi.
"Kalender Jawa itu menyeluruh. Tidak hanya waktu, tapi juga tempat, watak, sampai hubungan manusia dengan alam," jelasnya.
Dalam praktiknya, sistem ini bahkan digunakan untuk menentukan lokasi pasar dan arah aktivitas masyarakat. Setiap pasaran memiliki orientasi ruang tertentu yang berkaitan dengan pusat kekuasaan seperti keraton atau pendapa.
"Misalnya pahing itu menunjuk arah tertentu. Jadi orang dulu tahu, kalau hari ini pasaran tertentu, pasar yang ramai ada di lokasi itu," katanya.
Dengan sistem tersebut, masyarakat juga tidak perlu berpindah-pindah tempat untuk berdagang atau berbelanja. Aktivitas ekonomi pun terdistribusi secara efisien.
Baca Juga: Harga Cabai di Pasar Tradisional Gunungkidul Masih Tinggi , Daging dan Ayam Mulai Turun
Berbeda dengan anggapan umum, pasaran Jawa bukanlah pasar tiban atau pasar dadakan. Pasar sudah memiliki lokasi tetap, hanya saja aktivitasnya memuncak pada hari pasaran tertentu. "Pasarnya sudah ada di situ. Tapi untuk mengumpulkan orang, ditentukan hari pasarnya," ujar Sita.
Ia menambahkan, sistem ini secara umum relevan pada masa lalu, ketika jumlah penduduk masih sedikit. Dengan pengaturan pasaran, konsentrasi aktivitas ekonomi bisa terjadi secara terjadwal.
Dalam praktik tradisional, perhitungan pasaran melibatkan konsep neptu dan ilmu titen, yakni pengamatan berulang terhadap fenomena alam dan sosial. "Banyak yang mengira itu tebak-tebakan. Padahal bukan. Itu hasil akumulasi pengetahuan yang diwariskan," tegasnya.
Perhitungan ini bahkan mencakup variabel kompleks seperti iklim, kelembapan udara, arah angin, hingga perilaku hewan. Dalam konteks pertanian, sistem ini digunakan untuk menentukan waktu tanam yang ideal.
Baca Juga: Mudik 2026 Diprediksi Disesaki Jutaan Kendaraan, Peneliti UGM Ingatkan Bahaya Ini di Jalan
Namun, relevansi pasaran Jawa kini mulai memudar. Salah satu penyebabnya adalah perubahan pola hidup masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan modern. "Sekarang pasar buka setiap hari. Jadi fungsi pasaran sebagai pengumpul massa sudah tidak relevan," ulasnya.
Selain itu, perubahan iklim juga membuat akurasi kalender Jawa, terutama dalam bidang pertanian, tidak lagi presisi. "Dulu kalender Jawa hampir tepat. Tapi sekarang sudah tidak cocok, dan itu menunjukkan memang ada perubahan iklim," jelasnya.
Meski demikian, pasaran Jawa masih digunakan dalam beberapa aspek kehidupan, terutama dalam penentuan hari baik seperti pernikahan atau pembukaan usaha. "Masih ada yang menghitung kecocokan jodoh berdasarkan weton. Meskipun sekarang banyak yang lebih percaya pada pendekatan psikologi," ujarnya. (iza/laz)