JOGJA - Kirab Budaya dalam rangka Mangayubagya Yuswa Dalem ke-80 tahun Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X berjalan dengan lancar.
Kegembiraan terpancar dari wajah Raja Keraton Jogja saat menerima para peserta kirab yang dilaksanakan di Pagelaran Keraton Jogja, Kamis (2/4/2026).
"Saya terima kasih teman-teman hadir dalam kesempatan ini semoga sama-sama sehat yang penting itu," ujar Sri Sultan di Pagelaran Keraton Jogja, Kamis (2/4/2026).
Baca Juga: Anomali di Tengah Tingginya Pergerakan Masyarakat saat Lebaran di DIY, Okupansi Hotel Malah Turun Dibanding Tahun Sebelumnya
Di usianya ke-80, Sri Sultan terlihat antusias dalam menerima para peserta kirab.Selama menerima peserta, ia banyak berdiri dibandingkan duduk.
Dengan didampingi oleh Permaisuri Keraton Jogja GKR Hemas, mereka tampak bahagia dan bersemangat.
"Berdiri tiga jam ya ra kuat," kelakarnya kepada awak media.
Baca Juga: Keluarga Minta Pemerintah Investigasi Penyerangan terhadap Pasukan Perdamaian PBB, Isak Tangis Pecah saat Istri Praka Farizal Tiba di Rumah Duka di Kulon Progo
Ada sebanyak 46 kelurahan di Kota Jogja dan 362 kelurahan di seluruh DIY yang ikut meramaikan prosesi kirab budaya.
Masing-masing lurah, pamong kalurahan hingga masyarakat yang menjadi peserta membawa Glondong Pengarem-arem atau hadiah untuk Sri Sultan dalam bentuk gunungan hasil bumi unggulan setiap kalurahan.
Jenis komoditas juga sangat beragam, ada bakpia, masakan lokal hingga buah dan sayuran.
Baca Juga: PSS Sleman di Ujung Penentuan, Pemain Diminta Raih Target secara Bertahap dan Sistematis
Semuanya dibawa ke Pagelaran Keraton Jogja dan dikumpulkan menjadi satu. Hadiah tersebut, pada akhirnya, dibagikan kembali kepada masyarakat oleh Sri Sultan melalui bupati/wali kota sebagai perwakilan masyarakat yang juga turut hadir dalam acara tersebut.
"Saya kembalikan lagi ke warga masyarakat, secara simbolik bupati/walikota. Harapannya bisa dibagi rata dan bermanfaat untuk masyarakat," bebernya.
Saat ditanya terkait harapan untuk DIY ke depannya, Sri Sultan menjawab dengan ungkapan Bahasa Jawa yakni 'Lir Gumanti'.
Baca Juga: Melihat Momen Kedekatan Ahmad Luthfi dengan Dedi Mulyadi
Ungkapan tersebut bisa diartikan sebagai proses yang terus berjalan atau bergantian. Namun, tidak dijelaskan lagi secara rinci maksud dari ungkapan tersebut.
"Bagaimanapun semuanya kan terjadi, terjadi lir gumanti," ucapnya.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti mengeklaim daerah yang ia pimpin paling banyak menghadirkan peserta kirab.
Diperkirakan hampir 3.000 orang seluruh perangkat kalurahan di Gunungkidul. Hal itu juga didukung kondisi geografis Gunungkidul yang luasnya mencapai 46,63 persen daerah DIY.
Baca Juga: Belum Pikirkan PHK PPPK, Meski Belanja Pegawai Pemkab Gunungkidul Tembus 32 Persen
"Harapannya Ngraso Dalem bisa terus mengayomi masyarakat DIY dan jadi pelindung panutan kami, sehingga bisa toto titi tentrem," ujarnya.
Seluruh peserta dari Gunungkidul juga membawa hasil bumi sebagai hadiah untuk Sri Sultan.
Namun, ia mendapatkan mandat dari Sri Sultan agar hadiah itu bisa dibagikan lagi kepada masyarakat di Gunungkidul.
"Kami diberi sih katresnan dari Ngarso Dalem, atas nama beliau untuk diberikan di Kabupaten GK. Kami pun akan membagikan ke Organisasi Perangkat Daerah (OPD) kita," bebernya.
Baca Juga: Longsor Bebatuan Kembali Terjadi di Tanjakan Clongop Gunungkidul, 50 Persen Bahu Jalan Tertutup
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyampaikan bahwa mayoritas hasil bumi yang dibawa peserta dari Bantul merupakan bawang merah.
Sebab, wilayah tersebut 85 persen produksi pertaniannya adalah bawang merah. "70 persen pemasok daging sapi, dua inilah unggulan Bantul," ujarnya. (oso)
Editor : Winda Atika Ira Puspita