JOGJA - Beberapa pohon dan bangunan di Kapanewon Prambanan, Sleman porak-poranda imbas cuaca ekstrem, Sabtu (28/3) sore hingga malam.
Data yang disampaikan ada tujuh kejadian yang merugikan tersebar di beberapa desa.
"Mungkin karena faktor Siklon Narelle, tapi yang lebih paham nanti BMKG," ujar Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Agustinius Ruruh Haryata saat dikonfirmasi, Minggu (29/3/2026).
Data detail kejadian yang diberikan, tujuh lokasi dampak bencana yaitu di Dusun Majasem sebanyak tiga kejadian dan Dusun Candisingo satu kejadian.
Semuanya mengakibatkan genteng berterbangan hingga pecah.
"Di Dusun Ngrahu Cepit bahkan sampai ada bangunan joglo yang roboh," bebernya.
Selain bangunan, dua kejadian pohon tumbang juga terjadi di Dusun Marangan.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Sleman, Pemerintah Kalurahan (Pemkal) Madurejo, Bokoharjo, dan Sambirejo telah melakukan asesmen dan penanganan.
"Semuanya saat ini sudah terkondisikan oleh tim di lapangan," paparnya.
Cuaca ekstrem terjadi hampir merata di DIY.
Namun, dampaknya hanya terjadi di Kabupaten Sleman, khususnya di Prambanan.
"Yang lain ini belum masuk, atau tidak ada," imbuhnya.
Dalam keterangan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta, hasil analisis dinamika atmosfer mengidentifikasi adanya Siklon Tropis ‘NARELLE’ di wilayah Barat Australia.
Itu menyebabkan pola belokan angin (shearline) di sebagian wilayah Jawa.
Kondisi ini memberi peluang pertumbuhan awan hujan di wilayah Jawa.
BMKG Yogyakarta memperkirakan dari tanggal 28-30 Maret di wilayah DIY berpotensi hujan ringan hingga lebat.
Masyarakat diimbau agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca mendadak yang dapat terjadi dalam waktu singkat selama periode transisi ini. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin