JOGJA - Masa libur panjang hari raya Idul Fitri yang seharusnya menjadi ladang rezeki bagi pedagang oleh-oleh dan wahana wisata tahun ini terasa berbeda. Sejumlah pelaku usaha wisata mengeluhkan adanya penurunan omzet.
Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Beringharjo sisi Barat Ahmad Zainul Bintoro mengatakan, pada awal libur lebaran tahun ini ada belum ada peningkatan omzet signifikan. Hal tersebut terasa sejak lebaran hari kedua (22/3/2026) dan libur pertama pada Senin (23/3/2026).
Dia menyatakan, pada dua hari tersebut penurunan jumlah pembeli hingga 40 persen dibandingkan periode yang sama. Kendati begitu, jumlah pengunjung pasar tetap ramai. Namun memang banyak yang hanya sekedar bertanya.
“Daya belinya beda dengan tahun dulu. Kalau dulu kami tidak usah nawarin orang sudah datang beli, kalau sekarang kami harus nawar-nawarin,” ujar Bintoro saat ditemui.
Pedagang oleh-oleh baju batik ini menilai, menurunnya jumlah pembeli pada lebaran tahun ini karena daya beli masyarakat yang menurun karena berbagai kondisi. Misalnya banyak masyarakat yang mulai berhemat karena akan bersiap menghadapi situasi dampak dari perang global.
Lalu juga kondisi libur lebaran yang berdekatan dengan masa masuk sekolah. Sehingga menurutnya sebagian wisatawan lebih memilih untuk menyiapkan anggaran pribadi untuk kebutuhan sekolah dibandingkan membeli oleh-oleh.
“Mungkin situasinya ekonominya sedang tidak menentu, ditambah mau masuk sekolah juga, jadi banyak pertimbangan,” beber Bintoro.
Meskipun demikian, dia dan pedagang oleh-oleh Pasar Beringharjo lainnya tetap berharap ada kenaikan jumlah pembeli dalam beberapa hari kedepan. Pun saat ini masih merupakan masa awal liburan.
Bintoro memprediksi, jumlah wisatawan yang datang ke Malioboro akan terus bertambah hingga akhir pekan mendatang. Dia berharap dengan lamanya masa libur itu bisa turut mendatangkan jumlah pembeli di Pasar Beringharjo.
“Harapan kami trennya akan naik terus selama seminggu ini,” katanya.
Pantauan Radar Jogja, situasi di lapak pedagang oleh-oleh Pasar Beringharjo sisi barat memang cukup ramai. Wisatawan terlihat memenuhi pintu masuk pasar hingga masuk ke area pasar di sisi timur.
Salah satu wisatawan asal Jakarta, Cendana Eka mengaku tertarik datang ke Pasar Beringharjo karena ingin membawakan oleh-oleh untuk keluarganya. Perempuan 32 tahun ini membeli tiga stel baju batik dengan harga Rp 100 ribu.
Cendana mengaku, di masa libur lebaran tahun ini memang tidak banyak membeli oleh-oleh karena di masa libur tahun sebelumnya juga sudah membeli oleh-oleh. Sehingga dia hanya membeli tiga stel baju batik.
“Belinya memang tidak banyak-banyak karena juga mau beli oleh-oleh lain seperti bakpia dan menikmati kuliner khas Jogja,” terang wisatawan yang berencana berwisata di Jogja hingga Rabu (25/3/2026) ini.
Belum ramainya kunjungan wisatawan juga dirasakan oleh pengelola destinasi wisata jip lereng Gunung Merapi. Ketua Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM) Dardiri menyampaikan, hingga hari Minggu kunjungan wisatawan masih tergolong landai. Belum ada peningkatan signifikan dibandingkan hari-hari biasa.
Dia menyebut, animo wisatawan di awal masa libur lebaran ini kondisinya mirip dengan libur akhir pekan atau long weekend biasa. Armada mobil jip yang beroperasi pun hanya berkisar antara 800 sampai 900 unit. Pada tahun lalu jumlah armada jip yang diturunkan bisa mencapai 1.500 unit atau dikerahkan seluruhnya.
Dardiri menilai, salah satu faktor penyebab turunnya antusiasme wisatawan pada libur lebaran tahun ini karena jarak waktu yang tidak terlalu lama antara libur natal dan tahun baru. Lalu ada kemungkinan lain seperti daya beli masyarakat yang menurun karena situasi ekonomi.
“Tapi karena ini baru hari ketiga, kami lihat nanti bagaimana perkembangannya. Saya tidak mau terburu-buru bilang pasti ramai atau sepi, takut salah,” katanya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin