Panas Menyengat Jogja, Suhu Terasa Ekstrem Sangat Panas, Hujan Mulai Menghilang di Tengah Transisi Musim Kemarau 2026
Iwa Ikhwanudin• Selasa, 17 Maret 2026 | 12:50 WIB
ILUSTRASI: Warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai merasakan cuaca panas ekstrem yang semakin menyengat belakangan ini.
YOGYAKARTA, 17 Maret 2026 – Warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai merasakan cuaca panas ekstrem yang semakin menyengat belakangan ini.
Suhu udara maksimum di sejumlah wilayah Jawa, termasuk Jogja, tercatat mencapai kisaran 32–35 derajat Celsius, bahkan mendekati 37 derajat di daerah sekitar.
Fenomena ini disertai hilangnya hujan secara signifikan, membuat udara terasa kering dan gerah, terutama di siang hari.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi panas ini bukan gelombang panas ekstrem seperti di negara subtropis, melainkan efek transisi musim dari hujan ke kemarau yang lebih awal tahun ini.
Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) memproyeksikan suhu periode Maret–April–Mei 2026 berada di atas normal di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jawa dengan probabilitas tinggi 80–100%.
Di DIY, warga melaporkan panas terasa lebih menusuk, terutama di kawasan perkotaan akibat efek urban heat island dan kelembapan yang mulai menurun.
Hujan yang Semakin Jarang
Awal Maret 2026 masih tercatat curah hujan menengah hingga tinggi di dasarian pertama, namun memasuki pertengahan bulan, hujan drastis menurun.
Prediksi BMKG menunjukkan dasarian II dan III Maret curah hujan rendah hingga menengah (20–150 mm), dengan sifat umumnya bawah normal.
Fenomena ini menjadi tanda awal musim kemarau yang diprediksi datang lebih cepat, dipengaruhi indikasi El Niño lemah yang akan muncul pertengahan hingga akhir 2026.
Kepala Stasiun Klimatologi DIY menyatakan musim kemarau 2026 di wilayah DIY umumnya bawah normal, artinya lebih kering dari rata-rata klimatologis.
Awal kemarau diperkirakan bertahap mulai akhir April hingga awal Mei 2026, terutama di Sleman barat, Kulon Progo tengah-selatan, Bantul tengah-selatan, dan sebagian besar Gunungkidul.
Hal ini berpotensi memicu kekeringan di daerah rawan seperti Gunungkidul dan Bantul selatan.
Dampak dan Imbauan
Panas ekstrem ini meningkatkan risiko dehidrasi, heat stress, terutama bagi anak-anak, lansia, dan pekerja luar ruangan.
Banyak warga mengeluhkan sulit tidur malam karena gerah, serta peningkatan penggunaan AC yang membebani listrik.
BMKG mengimbau masyarakat:Perbanyak minum air putih minimal 2–3 liter sehari Hindari aktivitas berat di luar ruangan pukul 11.00–15.00 WIB Gunakan tabir surya, topi, dan pakaian berwarna terang Pantau update prakiraan cuaca harian melalui aplikasi BMKG atau situs resmi
Pemkot Yogyakarta telah memperpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi hingga akhir Maret untuk antisipasi potensi cuaca ekstrem transisi.
Meski hujan masih mungkin turun sporadis, tren keseluruhan menuju musim kemarau yang lebih panjang dan kering. (iwa)