JOGJA - Kotagede tak hanya soal kilau kerajinan perak atau megahnya sisa kejayaan Mataram Islam. Di balik gang-gang sempitnya, masih berdiri kokoh sebuah masjid yang memiliki sejarah panjang bagi masyarakat sekitar. Namanya Masjid Perak.
Bukan sekadar tempat bersujud, masjid ini merupakan monumen kultural dan kemandirian warga Kotagede dalam mensyiarkan agama di wilayah tersebut.
Takmir Masjid Perak Kotagede Jindar Fathoni menceritakan keberadaan rumah ibadah ini tak lepas dari semangat kemandirian masyarakat pada 1939 silam. Kala itu, syiar Islam di Kotagede memang berpusat di Masjid Gedhe Mataram. Namun status Masjid Gedhe sebagai milik Keraton Jogja (Kagungan Dalem) membawa konsekuensi administratif yang cukup ketat.
"Karena Masjid Gedhe itu milik keraton, penggunaannya terbatas. Harus mengikuti tata cara dan izin dari Keraton Solo maupun Jogja. Akhirnya, tiga tokoh ulama asli Kotagede berinisiatif membangun masjid sendiri agar warga lebih bebas beraktivitas," jelasnya saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Jumat (27/2).
Berbeda dengan masjid-masjid besar di Jogja yang umumnya disokong dana pemerintah, manurut Jindar, Masjid Perak lahir murni dari kocek masyarakat. Nama perak sendiri menjadi pengingat bahwa masjid ini berdiri di atas tanah wakaf keluarga Prof D HM Rasjidi, menteri agama pertama RI.
Masjid ini juga dibangun oleh para pengusaha serta perajin perak yang kala itu sedang jaya-jayanya. Dampak syiarnya pun juga tak main-main. Kala itu, Masjid Perak langsung bertransformasi menjadi magnet pergerakan intelektual dan spiritual.
Tokoh-tokoh bangsa tercatat pernah menapakkan kaki di sini. Sebut saja Jenderal TNI AH Nasution yang memberikan ceramah pasca-peristiwa Gestapu, hingga Prof KH Abdul Kahar Mudzakkir, anggota BPUPKI sekaligus rektor pertama UII yang rutin mengisi pengajian di sana pada era 60-an.
"Masjid ini menjadi saksi bisu bagaimana tokoh-tokoh besar merumuskan napas keislaman dan kebangsaan dari Kotagede," lontarnya.
Meski begitu, perjalanan Masjid Perak sempat diuji hebat pada 2006 silam. Guncangan gempa tektonik meluluhlantakkan struktur bangunan lama hingga retak parah. Meski harus dirombak total menjadi dua lantai demi keamanan, ruh arsitekturnya tak dibiarkan hilang.
Empat tiang utama atau soko guru dan model tiang serambi yang bulat panjang, tetap dipertahankan. Sebab bagi Jindar, hal itu merupakan upaya takmir untuk menjaga memori kolektif masyarakat bahwa masjid ini adalah penyambung lidah sejarah.
Hingga kini Masjid Perak terus berjaya dan bermanfaat bagi masyarakat. Syiar agama tak lagi sekadar soal salat lima waktu atau pengajian rutin.
Jindar menjelaskan ada beberapa kegiatan di masjid ini seperti wadah Komariah Masjid Perak (KMP) untuk remaja, hingga penyaluran beasiswa dan dana sosial bagi jamaah kurang mampu.
Saat pandemi Covid-19 dulu, Masjid Perak juga menjelma menjadi pusat ekonomi dan sosial. Bahkan sebelum pandemi Covid-19 menghantam, masjid ini memiliki klinik kesehatan yang beroperasi setiap Jumat sore.
"Harapan kami, Masjid Perak tidak hanya makmur secara jamaah, tapi juga menjadi pusat solusi bagi masalah sosial, ekonomi, dan kesehatan warga sekitar," tandasnya. (laz)