JOGJA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprediksi fenomena hujan es di wilayah DIY berpotensi bertahan hingga April.
Menyusul, fenomena yang sering terjadi belakangan, sudah dua kali terjadi di Sleman dan Gunungkidul tahun ini.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, hujan es di wilayah DIY dapat terus terjadi jika dinamika atmosfer mendukung fenomena tersebut.
Misal, jika pertumbuhan cumulonimbus masih masif dan ada tekanan udara turun yang lebih kuat.
Reni memprediksi, fenomena hujan es dan cuaca buruk lainnya dapat terjadi hingga bulan depan. Sebab sebagian besar wilayah DIY baru memasuki masa pancaroba pada April.
Reni mengingatkan bahwa fenomena hujan es bisa membahayakan. Karena berdasar pengalaman di Yogyakarta, butiran es dapat mencapai sebesar kelereng kecil atau sekitar 1-2 sentimeter.
“Hujan es bisa terjadi di dataran tinggi maupun dataran rendah, jika syarat-syarat dinamika atmosfer terpenuhi untuk terjadinya hujan es,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (4/3/2026).
Terkait dengan kesiapan menghadapi cuaca ekstrem di Kota Jogja, Ketua Tim Kerja Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Petrus Singgih Purnomo mengaku telah menyiapkan langkah kesiapsiagaan.
Salah satunya dengan membuat surat edaran kewaspadaan kepada masyarakat.
Lalu melakukan apel kesiapsiagaan lintas instansi, penyebaran informasi cuaca melalui grup WhatsApp relawan dan warga, serta melakukan sosialisasi secara langsung maupun daring.
“Kami juga telah mengecek peralatan, khususnya sistem peringatan dini banjir pada sungai-sungai besar di Kota Jogja,” terang Petrus. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita