JOGJA - Ramadan tahun ini menjadi pengalaman yang mengesankan bagi Najmaldeen Khaled. Ia menjalankan ibadah puasa bersamaan kuliah kerja nyata (KKN) di Sambeng, Kulon Progo, yang membuatnya mendapatkan pengalaman baru selama menjalani Ramadan di Jogjakarta.
Meskipun telah memasuki tahun kedua Ramadan di Jogjakarta, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini merasakan ibadah puasa dengan penuh kebersamaan dibanding tahun sebelumnya yang hanya berpuasa sendiri di kos.
Ramadan kali ini, Najmaldeen bisa merasakan berpuasa bersama teman-teman satu kelompoknya dengan berbagai kegiatan. Seperti emasak bersama, sahur bersama, dan melakukan ibadah bersama-sama.
"Kami juga berbuka puasa bersama warga. Setelah itu melakukan kegiatan tadarus Alquran setelah salat tarawih bersama-sama,” jelasnya kepada Radar Jogja, Minggu (22/2/2026).
Siang harinya, mahasiswa asal Yaman ini tetap memanfaatkan waktu untuk mengajarkan baca tulis Alquran kepada anak-anak Sambeng.
Ia juga aktif membuat konten tentang kegiatan KKN-nya di media sosialnya selama bulan puasa. Seperti berinteraksi dengan warga lokal, menghabiskan waktu bersama teman-temannya, dan rapat merencanakan program kerja kelompoknya.
Selama Ramadan, mahasiswa jurusan Teknik Elektro ini mengaku belum pernah pulang ke kampung halamannya. "Karena, jarak yang jauh membuat saya tidak bisa pulang ke Yaman," keluhnya.
Walaupun demikian, Ramadan di Indonesia tetap memiliki makna tersendiri baginya. Jogjakarta identik dengan malam takbiran yang tenang, dan makanan yang terasa sederhana tetapi bermakna. "Dan itu yang selalu saya ingat,” terang pemuda berumur 22 tahun itu.
Kendati demikian, Najmaldeen awalnya merasakan perbedaan yang cukup terasa antara kebiasaan masyarakat Indonesia dengan masyarakat di Yaman saat bulan Ramadan.
Di Yaman, rutinitas selama bulan Ramadan cenderung berubah cukup drastis. Banyak masyarakat yang baru memulai aktivitas sekitar pukul 12 siang atau bahkan pukul satu siang.
Toko-toko umumnya tutup pagi hari, dan kegiatan perkuliahan sering diliburkan. Masyarakat di negaranya juga melakukan aktivitas sepanjang malam hingga subuh.
Di Indonesia aktivitas biasa seperti bekerja, kuliah, dan rutinitas lainnya tetap dilakukan saat Ramadan. Sahur pun dilakukan lebih awal.
"Karena itu, saya cukup terkejut awalnya ketika datang ke Indonesia dan melihat aktivitas Ramadan berjalan hampir seperti hari biasa dari segi gaya hidup,” katanya.
Memang awalnya mahasiswa semester enam ini kaget karena perbedaan budaya di negaranya dan di Indonesia cukup berbeda. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai memahami dan menyesuaikan diri dengan budaya di Indonesia.
Ia memilih berkuliah di Jogjakarta bukan tanpa alasan. Menurutnya, di kota pelajar ini biaya hidup terjangkau. Dari segi pendidikan juga berkualitas, dan budaya Islam yang masih kental.
"Selain itu, Jogjakarta terasa tenang dan ramah bagi mahasiswa, sangat cocok untuk fokus menempuh pendidikan,” tuturnya.
UMY dipilih sebagai kampusnya untuk menuntut ilmu, karena memiliki reputasi dan lingkungan internasional yang baik, serta nilai-nilai yang sejalan dengan prinsip hidupnya. (cin/laz)
Editor : Herpri Kartun