JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta memprediksi potensi cuaca ekstrem bakal bertahan hingga awal Maret. Hal ini dipengaruhi karena angin baratan atau Monsun Asia yang aktif di Indonesia.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas mengatakan, kondisi tersebut memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Serta diprediksi bertahan hingga Maret mendatang.
Untuk Februari, lanjutnya, intensitas hujan diprediksi menengah-tinggi dengan kisaran 75-200 mm/dasarian. Kemudian memasuki awal bulan Maret curah hujan berkisar 50-150 mm/dasarian. Lalu di pertengahan Maret diprediksi berkisar antara 20-150 mm/dasarian.
“Kami mengimbau agar selalu waspada. Terutama di wilayah rawan banjir, tanah longsor dan angin kencang,” ujar Reni dalam keterangannya Minggu (22/2).
Dia menyampaikan, potensi cuaca ekstrem juga perlu diwaspadai hingga Mei. Lantaran meski sudah melewati puncak musim penghujan, selama Maret-Mei tetap berpotensi turun hujan dengan intensitas beragam.
Misalnya Maret, curah hujan diprediksi masuk kategori menengah-tinggi dengan kisaran 151-400 mm per bulan. Kemudian di bulan April masuk kategori menengah dengan kisaran 101-300 mm/bulan. Sementara di bulan Mei berkisar 21-150 mm/bulan atau masuk kategori rendah-menengah. “Langkah mitigasi pasca-puncak musim penghujan dapat dilakukan dengan melakukan penyesuaian pola tanam,” kata Reni.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Petrus Singgih Purnomo menyebut, perpanjangan status siaga darurat bencana hidrometeorologi dapat dilakukan hingga Maret. Terlebih jika potensi cuaca ekstrem seperti hujan yang disertai angin kencang masih mengancam.
“Kami masih menunggu arahan dari BMKG. Kalau sudah keluar, nanti akan kami konsepkan perpanjangan,” kata Petrus. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita