Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dosen ISI Yogyakarta Daruni Yutta Kenang Mbok Beruk: Seperti Pamit di Ulang Tahun Terakhirnya

Fahmi Fahriza • Sabtu, 14 Februari 2026 | 14:17 WIB
Daruni Yutta menunjukkan potret kebersamaan dengan mendiang Yu Beruk.
Daruni Yutta menunjukkan potret kebersamaan dengan mendiang Yu Beruk.

 

JOGJA - Dunia seni pertunjukan kembali berduka.

Seniman senior asal Jogja yakni Sumisih Yuningsih atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Mbok Beruk alias Yu Beruk, meninggal dunia pada Sabtu, (14/2/2026) setelah menjalani perawatan intensif di RSUP Sardjito.

Kepergian Yu Beruk meninggalkan duka mendalam bagi banyak seniman.

Salah satunya adalah dosen seni tari Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja Daruni Yutta, yang memiliki kedekatan personal dengan almarhumah sejak kecil.

Daruni menuturkan, terakhir kali bertemu Yu Beruk adalah pada 11 Januari 2026 lalu, dalam perayaan ulang tahun sang seniman di sebuah restoran di kawasan Sewon, Bantul.

"Waktu itu sehat. Bahkan beliau ikut joget Gambyong. Nggak bisa menahan diri waktu saya dan Mbak Yati Pesek joget, beliau langsung ikut turun," ujar Daruni saat dihubungi Radar Jogja, Sabtu (14/2/2026).

Menurutnya, suasana ulang tahun pada bulan lalu tersebut sangat meriah.

Ada puluhan seniman lintas generasi hadir, mulai dari para pelaku ketoprak senior hingga seniman muda.

Namun di balik kemeriahan itu, Daruni mengaku sempat merasakan firasat yang sulit dijelaskan.

"Terus terang saat itu saya seperti ada bisikan, kok ini kayak perpisahan. Kayak Mbokde Beruk itu pamit pada semua orang. Tapi saya tolak perasaan itu. Saya bilang ini sukacita, ini ulang tahun," ungkapnya.

Firasat tersebut kembali teringat ketika pihak keluarga mengabarkan bahwa Yu Beruk telah delapan hari dirawat di ICU, sekitar sepekan lalu.

"Saya nggak mau itu terjadi, tapi ternyata bisikan itu kejadian," tuturnya lirih.

Momen kebersamaan Daruni Yutta bersama dengan mendiang Yu Beruk dalam acara pementasan. 
Momen kebersamaan Daruni Yutta bersama dengan mendiang Yu Beruk dalam acara pementasan. 

Daruni menyebut, dari yang diketahuinya almarhumah Yu Beruk meninggal dunia setelah mengalami komplikasi penyakit.

Gejala awalnya berupa sesak napas, yang berkaitan dengan kondisi jantung.

"Jantung. Diawali dengan sesak seperti sakit yang dulu. Terus komplikasi bermacam-macam penyakit," jelasnya.

Ia juga menambahkan, serangan penyakit serius sebelumnya juga sempat terjadi saat Yu Beruk hendak pentas ke Jakarta bertahun-tahun lampau.

Keinginan kuat untuk tetap tampil, menurut Daruni, menjadi ciri khas almarhumah.

 

"Inner-nya itu pengennya tetap pentas. Pokoke kudu pentas apapun situasi tubuhnya. Energi pengen pentas itu yang bikin beliau semangat terus," katanya.

Secara pribadi, kedekatan Daruni dengan Yu Beruk sendiri sudah terjalin sejak medio 1965, ketika ia masih berusia lima tahun.

Saat itu, pamannya memiliki kelompok ketoprak humor yang pentas di Jakarta dan Yu Beruk, yang masih remaja, menjadi salah satu pemainnya.

"Beliau yang momong saya waktu itu. Dari sana hubungan kami dekat sekali," ujar Daruni.

Ia kemudian mengetahui bahwa ayah Yu Beruk merupakan sahabat dekat ayahnya. Hubungan kedua keluarga pun semakin erat.

Bahkan, anak Daruni juga sempat terlibat aktivitas seni bersama Yu Beruk.

Momen kebersamaan Daruni Yutta bersama dengan mendiang Yu Beruk dan teman-teman lainnya dalam acara pementasan. 
Momen kebersamaan Daruni Yutta bersama dengan mendiang Yu Beruk dan teman-teman lainnya dalam acara pementasan. 

Dalam perjalanan kariernya, Yu Beruk dikenal sebagai seniman multitalenta.

Ia mendalami tari klasik Jawa, ketoprak, wayang wong, film, hingga teater.

Seluruh kemampuan itu, menurut Daruni, diraih secara otodidak.

"Mbokde Beruk full belajar otodidak. Tidak ada pendidikan seni formal. Tapi beliau adaptif, melewati berbagai zaman dan tetap panjang kariernya," katanya.

Secara personal, Daruni mengenang almarhumah sebagai sosok yang tangguh, ngemong, dan mengayomi para juniornya.

"Beliau orang baik. Sangat menyenangkan, mengayomi. Buat saya, beliau itu bukan cuma senior, tapi kakak dan mentor," ucapnya.

Kepergian Yu Beruk menjadi kehilangan besar bagi dunia seni tradisi Jogja.

Namun bagi Daruni, kenangan terakhir melihat sang seniman ikut menari Gambyong di hari ulang tahunnya akan selalu membekas.

"Bulan lalu itu saya lihat mbokde ra kuat lingguh, kudu tangi melu njoget. Ternyata itu yang terakhir," tutupnya. (iza)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Mbok Beruk #Daruni Yutta #Seniman #Sumisih Yuningsih #Mbok Beruk Meninggal #Yogyakarta #seni pertunjukan #pamit #Daruni Yutta Kenang Mbok Beruk #Dosen ISI Yogyakarta #ketoprak #seniman yogyakarta #Yu Beruk #Ulang Tahun