JOGJA - Pusara Bapak Pendidikan Indonesia sekaligus Tokoh Pers Nasional dari DIY Ki Hajar Dewantara itu dipenuhi bunga. Semangatnya dalam menyuarakan keadilan tak ikut terkubur. Menjadi spirit bagi generasi selanjutnya.
Di pagi yang sejuk itu, rombongan peziarah dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY berduyun-duyun masuk ke gerbang Taman Makam Wijayabrata, Tamansiswa, Jogja.
Keranjang yang dipenuhi bunga setaman mereka tenteng. Agenda ziarah yang mereka lakukan dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026.
"Salah satu tokoh yang kami ziarahi adalah Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia sekaligus jurnalis," ujar Ketua PWI DIY Hudono Jumat (13/2).
Ki Hajar Dewantara adalah orang yang memulai terjun dalam pergerakan melalui tulisan-tulisan kritis sebagai jurnalis. Gaya tulisannya dikenal tajam dengan mengangkat semangat antikolonialisme.
Beberapa surat kabar yang pernah memuat tulisan-tulisannya seperti De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, Midden Java, dan Sediotomo. "Beliau adalah pendiri Tamansiswa, jurnalis yang spiritnya masih diikuti oleh teman-teman pers hingga saat ini," bebernya.
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, nama lengkap Ki Hajar, dimakamkan bersandingan dengan istrinya, Nyi Hajar Dewantara atau RA Sutartinah. Kedua makam itu diziarahi, didoakan dan ditaburi banyak bunga oleh anggota PWI DIY yang hadir.
"Kegiatan ini menjadi momentum mengenang jasa para perintis dan pejuang pers yang telah meletakkan fondasi kuat bagi perkembangan dunia jurnalistik," ucapnya.
Ada tiga makam di Kompleks Taman Makam Wijayabrata yang diziarahi. Pertama, makam Ki Hajar Dewantara, Ki H Samawi yang merupakan salah satu pendiri perusahaan media di Jogja dan Ki Mashuri Darmosugito. Mereka semua adalah tokoh pers dari DIY.
"Para tokoh yang kita ziarahi hari ini telah memberikan teladan tentang keberanian, dedikasi, dan tanggung jawab moral pers kepada masyarakat,” tambahnya.
Semboyan Ing ngarsa sung tuladha (di depan, seorang pendidik harus mampu memberikan teladan yang baik), Ing madya mangun karsa (di tengah, harus bisa menciptakan ide atau prakarsa) dan Tut wuri handayani (dari belakang harus bisa memberikan arahan dan dorongan) dari Ki Hajar Dewantara nyatanya masih relevan hingga kini.
Melalui tulisan-tulisannya, Ki Hajar Dewantara terus menggaungkan semboyan tersebut. Semboyan yang mengkritisi sistem pendidikan kolonial hingga bermasyarakat pada zaman itu. "Semboyan itu harus direfleksikan dan diteguhkan dalam komitmen insan pers terhadap nilai-nilai independensi dan integritas," tandasnya.
Ziarah tidak hanya dilakukan di satu lokasi. Rombongan kemudian melanjutkan ke Pesareyan Sonyoragi untuk Mr Sumanang Suryowinoto.
Sumanang adalah tokoh penting Indonesia di bidang hukum, jurnalistik, dan politik, dikenal sebagai salah satu pendiri Kantor Berita Antara, ketua pertama PWI, serta pernah menjabat Menteri Perdagangan (atau Menteri Perekonomian) pada Kabinet Wilopo dan Senator Republik Indonesia Serikat (RIS).
Ia juga berkarier di dunia perbankan, menjadi presiden direktur di beberapa bank, termasuk Bank Industri Negara dan Bank Pembangunan Indonesia.
Ziarah kemudian berlanjut ke Makam Pringwulung doa untuk M. Wonohito. Berlanjut ke Makam Krapyak untuk mengenang H. Koesfandi dan Suwariyun. Rangkaian kegiatan ditutup dengan ziarah ke makam wartawan Fuad Muhammad Syafruddin (Udin). "Sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya membela kemerdekaan pers," bebernya.
Udin, jurnalis harian Bernas dikenal sebagai simbol keberanian pers dalam menjalankan fungsi kontrol sosial. Ia wafat pada 16 Agustus 1996 setelah mengalami kekerasan terkait karya jurnalistiknya. Peristiwa itu menjadi catatan penting dalam sejarah kebebasan pers di Indonesia dan hingga kini namanya dikenang sebagai pejuang kemerdekaan pers.
"Melalui acara seperti ini kami terus merawat sejarah, menghormati jasa tokoh pers, serta memperjuangkan kemerdekaan pers yang bertanggung jawab di tengah tantangan zaman," jelasnya. (oso/laz)
Editor : Herpri Kartun