Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hujan Es Ancam DIY saat Puncak Musim Penghujan, BMKG Sebut Pertumbuhan Awan Konvektif Masif

Iwan Nurwanto • Senin, 2 Februari 2026 | 10:10 WIB

 

Penumpang memandang keluar dari dalam becak yang dilapisi mantel hujan saat hujan mengguyur Kota Jogja.
Penumpang memandang keluar dari dalam becak yang dilapisi mantel hujan saat hujan mengguyur Kota Jogja.

JOGJA - Fenomena angin kencang yang disertai hujan lebat dan butiran es terjadi di wilayah DIY pada Sabtu (31/1). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta pun memprediksi hujan es akan terus terjadi selama puncak musim penghujan.

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengatakan, fenomena hujan es disebabkan tekanan udara turun lebih kuat. Sehingga butiran es yang terperangkap dalam awan turun ke permukaan tanah melalui hujan masih dalam bentuk yang sama.

Warjono menyebut, fenomena hujan es dapat menjadi ancaman selama masa puncak musim penghujan di bulan Februari ini. Sebab selama periode tersebut proses pembentukan awan konvektif kemungkinan terus terjadi. “Bisa terjadi hujan es selama puncak musim penghujan, jika pemicu tumbuhnya awan konvektif ada terus,” ujar Warjono saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon Minggu (1/2).


Awan konvektif merupakan awan hujan yang terbentuk akibat penguapan air dari paparan sinar matahari di permukaan tanah. Uap air yang terperangkap dalam suhu dingin di awan berubah menjadi butiran es. Jika butiran es turun dengan tekanan udara naik maka menjadi air. Namun jika kondisi tekanan udara turun lebih kuat, butiran es bisa dalam bentuk yang sama saat sampai ke permukaan tanah.


Warjono menyatakan, berdasarkan hasil analisis di hari tersebut pertumbuhan awan konvektif memang cukup masif. Lantaran ada pola belokan angin (konvergensi) akibat aktivitas angin baratan di wilayah DIY.

Kemudian suhu muka laut dalam kondisi hangat berkisar antara 30-31 derajat celcius. Sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan. Kondisi tersebut diprediksi terus terjadi selama bulan Februari ini. “Keadaan ini juga menimbulkan hujan berintensitas lebat yang disertai angin kencang,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Darmanto menyebut, informasi cuaca cukup penting menjadi dasar mitigasi. Sebab curah hujan yang tinggi meningkatkan potensi banjir luapan sungai dan talut longsor di kawasan permukiman.

Sebagai upaya mitigasi, Darmanto mengaku telah menyiagakan telemetri selama 24 jam penuh. Kemudian juga pengoperasian sistem early warning system (EWS) di sejumlah aliran sungai sebagai sistem deteksi dini. “Permukiman bantaran sungai juga perlu waspada, khususnya jika curah hujan tinggi terjadi secara berulang,” pesannya. (inu/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#hujan es #bmkg yogyakarta #Hujan lebat #BPBD Kota Jogja #Musim penghujan #es #tekanan udara #awan konvektif