JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja menaruh perhatian khusus terhadap potensi bencana luapan sungai. Sebab dari pemantauan tiga sungai besar di Kota Jogja, ketinggian airnya hampir menyentul setengah meter.
Misalnya di Sungai Code, ketinggian air rata-rata mencapai 35,04 sentimeter, dengan catatan tertinggi 39,7 sentimeter. Lalu di Sungai Winongo ketinggian air rata-rata mencapai 27,2 sentimeter dengan tertinggi 49,5 sentimeter. Sementara Sungai Gajahwong ketinggian air rata-rata 40,5 sentimeter dengan ketinggian tertinggi 41,4 sentimeter.
Ketinggian rata-rata maupun catatan tertinggi di tiga sungai tersebut masih tergolong aman. Lantaran belum melewati ambang batas 200 sentimeter yang merupakan kategori bahaya ketinggian air sungai.
“Sejauh ini belum terpantau adanya kenaikan debit air yang signifikan maupun laporan kondisi luar biasa yang berpotensi memicu banjir,” ujar Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Jogja Darmanto saat dikonfirmasi lewat pesan singkat Minggu (1/2).
Meskipun demikian, menurutnya potensi bahaya luapan sungai tetap harus diwaspadai. Sebab di tengah puncak musim penghujan seperti sekarang debit air bisa langsung meningkat tanpa diprediksi. Sebagai langkah mitigasi, Darmanto mengaku sudah menyiapkan early warning system (EWS) dan pemantauan secara rutin kondisi sungai di Kota Jogja maupun wilayah hulu. Dia juga meminta agar masyarakat yang tinggal di bantaran sungai agar selalu waspada.
“Sebab ada potensi talud longsor di kawasan permukiman khususnya jika curah hujan tinggi terjadi secara berulang,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Reni Kraningtyas mengungkapkan curah hujan pada bulan Februari hingga Maret masih tinggi. Berkisar antara 201–400 mm per bulan atau dalam kategori menengah-tinggi. “Curah hujan mulai menurun ke kisaran 201 – 300 pada April,” bebernya. (inu/eno)