Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Warga Balai Kota Jogja Sempat Panik Karena Gempa Bumi, BMKG Sebut Ada Aktivitas Sesar Opak

Iwan Nurwanto • Selasa, 27 Januari 2026 | 16:06 WIB
Sejumlah pegawai Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja saat berhamburan keluar pasca gempa bumi yang terjadi pada Selasa (27/1/2026).
Sejumlah pegawai Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja saat berhamburan keluar pasca gempa bumi yang terjadi pada Selasa (27/1/2026).

JOGJA - Getaran gempa bumi kembali terasa di Yogyakarta pada Selasa (27/1/2026). Fenomena alam yang disebabkan oleh pergeseran lempeng tektonik itu dipicu karena aktifnya Sesar Opak.

Kepala Stasiun Geofisika Sleman Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Ardhianto Septiadhi mengatakan pusat gempa yang berada di kabupaten Bantul itu memiliki kekuatan magnitudo 4,4 skala richter dengan kedalaman 11 kilometer. Getarannya terjadi pada pukul 13.15 dan terasa hingga Bantul, Gunungkidul, Kulonprogo, Sleman, Kota Yogyakarta, dan Klaten.

Gempa juga terasa di luar wilayah DIY. Seperti Wonogiri, Purworejo, Trenggalek, Solo, Pacitan, dan Magelang. BMKG menyebut belum ada dampak kerusakan akibat gempa. Serta dipastikan tidak memicu terjadinya tsunami.

Namun demikian, BMKG Yogyakarta mencatat ada peristiwa gempa susulan. Hingga pukul 13.45 tercatat ada 14 kali gempa dengan magnitudo 2.0 skala richter.

“Memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Opak,” ujar Ardhianto dalam keterangannya, Selasa (27/1/2026).

Berdasarkan catatan BMKG Yogyakarta, dalam beberapa hari terakhir ini memang cukup sering terjadi gempa. Selama bulan Januari saja ada tiga kali gempa yang dapat dirasakan.

Di antaranya pada tanggal 3 Januari 2026 berkekuatan 4,6 skala richter dengan pusat gempa di 127 kilometer timur laut Tuban, Jawa Timur. Lalu di tanggal 25 Januari 2026 dengan kekuatan 4,6 skala richter berpusat di 101 kilometer barat Gunungkidul. Terakhir di 27 Januari 2026 dengan pusat gempa di 16 kilometer timur laut Bantul berkekuatan 4,6 skala richter.

Koordinator Observasi Stasiun Geofisika BMKG Yogyakarta Budiarta menambahkan, sesar opak merupakan salah satu lempengan bumi pemicu gempa yang paling aktif. Zona rekahan bumi itu melintang dari Bantul ke arah utara timur laut hingga wilayah Klaten selatan.

Sesar opak diketahui juga menjadi pemicu gempa Jogja tahun 2006. Bedanya, gempa bumi yang terjadi 19 tahun lalu itu memiliki kekuatan 5,9 skala richter dengan durasi 57 detik. Sehingga menimbulkan banyak korban jiwa dan materi.

“Selama ini sesar opak aktif, sehingga harus diwaspadai namun tidak perlu panik,” jelas Budiarta.

Peristiwa gempa pada Selasa (27/1/2026) juga sempat membuat lingkungan Balai Kota Jogja panik. Sejumlah pegawai tampak berhamburan keluar pasca kejadian gempa yang berlangsung beberapa detik itu.

Salah satu pegawai Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian (Diskominfosan) Kota Jogja Anik Puspitasari menceritakan, peristiwa gempa sempat membuat lingkungan kantornya diselimuti ketakutan. Sebagian pegawai bahkan langsung berlarian turun dari lantai atas untuk keluar menyelamatkan diri.

Anik mengaku, cukup trauma dengan bencana gempa bumi. Hal itu tidak lepas dari pengalamannya merasakan gempa dahsyat pada tahun 2006 lalu.

“Tadi banyak yang berlarian, namun setelah gempa berakhir kembali kondusif, para pegawai bekerja kembali,” bebernya. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#gempa bumi #gempa bantul #sesar opak #gempa jogja