JOGJA - Pasar Beringharjo tidak hanya menyimpan potensi baju batik dan sate kere. Namun di sudut los rempah dan jamu, ada toko kopi yang ternyata selama ini jadi jujugan wisatawan domestik dan mancanegara. Itu adalah Kios Hasanah milik Kun Hariana.
Kios Hasanah memang cukup kontras di antara banyaknya penjual rempah dan jamu di Pasar Beringharjo. Lantaran toko tersebut merupakan kios yang satu-satunya menjual kopi. Aroma kopi milik Kun Hariana bak beradu dengan bau sedap khas rempah-rempah.
Namun Kios Hasanah memang dapat dibilang menantang bagi mereka yang pertama kali berkunjung. Letaknya berada di sisi timur Pasar Beringharjo dan agak nyempil diantara deretan penjual rempah dan jamu lainnya.
Tapi di balik itu, Kios Hasanah ternyata selama ini menjadi jujugan bagi wisatawan sekaligus pecinta kopi yang berkunjung ke Malioboro. Tidak hanya wisatawan nusantara tapi juga wisatawan mancanegara.
Kun mengatakan, bahwa dirinya memulai bisnis penjualan biji kopi sejak tahun 2019 atau bertepatan dengan masa pandemi Covid-19. Selain menjual kopi, dia juga menyediakan bahan jamu dan rempah sejak tahun 2.000.
Pria kelahiran Jawa Barat itu mengaku, memiliki lebih dari 25 jenis biji kopi yang berasal dari seluruh Indonesia. Untuk yang termurah biji kopi Temanggung dengan harga Rp 20 ribu per ons. Sementara biji kopi termahal ada pada jenis kopi luwak dengan harga Rp 75 ribu per ons.
“Awalnya memulai usaha kopi ini karena saya juga suka kopi, kebetulan ada juga saudara yang petani kopi,” ujar Kun saat ditemui, Selasa (27/1/2026).
Menjalankan usaha sejak enam tahun lalu, pria lima puluh tahun ini memang sudah piawai membuat kopi. Bahkan juga mampu menjelaskan tentang bagaimana karakter rasa dari biji kopi yang dijualnya.
Pada kios yang berukuran kurang dari empat meter miliknya, Kun juga ada mesin penyeduh dan gilingan. Bukan hanya sebagai penghias, namun peralatan tersebut berfungsi untuk tester bagi pembeli.
Sehingga pembeli bisa merasakan terlebih dahulu citarasa biji kopi sebelum memutuskan memboyongnya.
Selain menjadi jujugan bagi wisatawan, Kun mengklaim toko kecilnya itu juga menjadi pemasok bagi cafe-cafe kekinian.
Bahkan sekarang juga mulai merambah penjualan online yang mampu menjangkau dari seluruh Indonesia.
“Sehari itu saya bisa habis sekitar 20 kiloan, yang beli wisatawan ada juga dari pemilik cafe,” bebernya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin