Ibadah penutupan Pekan Doa Sedunia (PDS) 2026 di Gereja Kristus Raja Baciro, Rabu (21/1) malam, menjadi ruang refleksi iman umat Kristen di Yogyakarta atas situasi dunia yang kian tidak menentu.
Sekitar 1.000 jemaat Katolik dan Kristen lintas denominasi hadir dalam doa bersama yang menekankan kewaspadaan rohani di tengah ketegangan global, konflik internasional, dan krisis kemanusiaan.
Ketua Badan Kerja Sama Antar Denominasi Kristen (BKSADK) DIY, Pdt. Em. Agus Haryanto, menyampaikan bahwa perkembangan dunia saat ini menunjukkan kecenderungan dominasi kekuatan global yang berpotensi mengancam kehidupan bersama antarbangsa.
Menurutnya, konflik internasional yang meluas dan saling tumpang tindih berisiko memicu kekacauan global atau chaos.
“Kehidupan global saat ini memperlihatkan negara-negara adidaya memamerkan kekuatan dan pengaruhnya. Ketegangan internasional rawan konflik dan perlu diantisipasi secara serius, termasuk oleh Indonesia,” ujar Agus dalam sambutannya.
Agus menegaskan, bagi orang percaya, situasi dunia tersebut tidak boleh direspons dengan ketakutan berlebihan. Ia menyebut kondisi global saat ini telah lama digambarkan dalam nubuatan iman Kristen sebagai gambaran kehidupan menjelang akhir zaman.
“Sebagai umat Tuhan Yesus Kristus, kita tidak boleh gentar atau takut. Situasi ini justru mengingatkan kita untuk tetap berjaga, waspada, dan setia,” katanya.
Pekan Doa Sedunia 2026 di Yogyakarta merupakan pelaksanaan ke-11 hasil kerja sama Kevikepan Yogyakarta Timur dengan BKSADK DIY. Tahun ini, PDS mengangkat tema dari Efesus 4:4: “Satu tubuh dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu.”
Tema tersebut, menurut Agus, menegaskan bahwa umat Kristen dipanggil untuk tetap hidup dalam kesatuan tubuh Kristus, sekalipun dunia diwarnai fragmentasi, egoisme, dan konflik kepentingan.
Selain isu geopolitik, Agus juga menyoroti maraknya bencana alam sebagai pengingat relasi manusia dengan alam ciptaan Tuhan. Ia menekankan bahwa iman Kristen tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga menuntut tanggung jawab ekologis dan sosial.
“Kita dipanggil untuk mengusahakan sekaligus memelihara alam. Kepedulian terhadap sesama manusia dan seluruh ciptaan Tuhan adalah bagian dari kesaksian iman,” ujarnya.
Rangkaian PDS 2026 di Baciro diawali dengan seminar ekumenisme pada 8 Januari, dilanjutkan ibadah penutupan lintas gereja, serta aksi sosial melalui pengumpulan persembahan yang disalurkan ke Panti Asuhan Helen Keller di Wirobrajan.
Melalui Pekan Doa Sedunia, BKSADK DIY berharap umat Kristen semakin dikuatkan dalam persekutuan iman, tidak terjebak pada kecemasan akan situasi dunia, serta mampu menghadirkan kepedulian dan solidaritas di tengah realitas global yang penuh ketidakpastian.
“Di atas semuanya itu, kita percaya bahwa Tuhan yang memanggil umat-Nya akan tetap memelihara dan memberkati dalam segala keadaan,” kata Agus.
Editor : Heru Pratomo