JOGJA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mendeteksi tiga aktivitas siklonik yang memicu hujan lebat disertai angin kencang.
Ketiganya, adalah siklon Nokaen di timur Filipina, bibit siklon 97S di utara Australia, dan bibit siklon 96S di Samudera Hindia Barat Australia.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengatakan, ketiga fenomena pusaran angin itu sangat berpengaruh terhadap pembentukan pola angin di Pulau Jawa. Termasuk di empat kabupaten dan satu kota di DIY.
Sehingga perlu melakukan mitigasi agar dampak cuaca ekstrem dapat diminimalisasi.
“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada potensi cuaca ekstrem, berupa hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang,” ujar Warjono dalam keterangannya, Minggu (18/1/2026).
Selain karena aktivitas siklonik, Warjono menyebut intensitas hujan di DIY juga meningkat seiring dengan anomali suhu muka laut.
Berdasar hasil pengamatan skala harian maupun mingguan suhu muka Laut Jawa dan Samudera Hindia terpantau mencapai 28 hingga 30 derajat celcius.
Kondisi tersebut memungkinkan peningkatan uap air ke atmosfer. Sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan.
Apalagi dengan profil kelembaban udara di DIY yang mencapai 70 hingga 95 persen. “Ada peluang pertumbuhan awan hujan di wilayah DIY cukup signifikan,” jelasnya.
Baca Juga: Tembus Desa Terisolasi dengan Trail, Kepala BNPB Pastikan Penanganan Banjir Jateng Jadi Prioritas
Berdasar laporan BPBD DIY, seluruh kabupaten/kota mengalami dampak cuaca ekstrem pada Sabtu (17/1/2026).
Terparah di Kabupaten Sleman, karena Kapanewon Cangkringan dan Pakem mencatat 91 titik terdampak hujan disertai angin kencang.
Bentuk kejadian bencana di dua wilayah tersebut meliputi 65 pohon tumbang, 11 akses jalan terganggu, tiga jaringan listrik sempat terputus.
Serta ada kerusakan di 64 rumah, 2 mobil rusak, 2 pos ronda rusak, dan 3 kandang ternak rusak. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita