Di sisi barat daya perempatan Mirota Kampus dulu sempat terdapat tulisan Taylor Street. Sebagai penanda jika di sepanjang trotoar Jalan Dr Sarjito terdapat tukang jahit hingga jasa vermak. Tapi mulai Kamis (15/1), mereka pindah ke Pasar Terban.
Pantauan Radar Jogja pada Rabu siang (14/1), beberapa penjahit dan jasa vermak jin mulai membongkar kiosnya. Beberapa juga menuliskan lokasi hingga nomor kios baru mereka di Pasar Terban.
Meski sudah mau pindah, Paguyuban Pinang Perak menyayangkan tempat baru yang dinilai kurang representatif. Ketua Paguyuban Pinang Perak Markoni mengatakan, kios baru di Pasar Terban jauh dari kata layak.
Bahkan menurutnya lebih mirip los daging dibandingkan tempat kerja penjahit. Lantaran meja terbuat dari cor dan tidak bisa untuk menempatkan mesin.
Markoni juga menyayangkan tidak adanya komunikasi dengan paguyuban perihal proses penyediaan tempat di Pasar Terban. Sehingga justru menjadi kendala bagi 74 pelaku usaha jahit dan jasa vermak di sepanjang Jalan Dr Sardjito.
“Kalau niatnya memberi tempat, ya sesuai kebutuhan penjahit. Kalau begini ya kami tidak bisa kerja, malah seperti dipaksa pindah ke tempat yang belum siap pakai,” ujar Markoni saat ditemui di kiosnya.
Baca Juga: Jateng Dilanda Hujan Ekstrem, Gubernur Luthfi Minta Daerah Ajukan Asuransi Gagal Panen
Penjahit yang sudah 30 tahun menjalankan usahanya di trotoar Jalan Dr Sardjito ini mengaku sudah berkomunikasi dengan pemkot terkait masalah tersebut. Para penjahit sudah diberi izin untuk membongkar.
Namun hal tersebut justru memberatkan para penjahit, lantaran wajib menggunakan dana pribadi. Kemudian juga harus membuat surat pernyataan dan menunggu hingga bangunan Pasar Terban resmi diberikan dari kontraktor kepada pemkot.
“Jelas kami keberatan, karena untuk renovasi kami butuh minimal Rp 900 ribu,” beber Markoni.
Baca Juga: Kopdes Merah Putih Perkuat UMKM Desa dan Ciptakan Lapangan Kerja Baru
Meskipun begitu, Markoni sadar, para pelaku usaha di sepanjang trotoar Jalan Dr Sardjito memang melanggar karena berada di atas trotoar. Kendati begitu dia berharap lebih dimanusiakan. Misalnya diberi tenggat waktu untuk menyelesaikan antrian jahitan dari pelanggan.
“Makanya ini stres. Langganan masih banyak, tapi besok harus hilang. Malam ini (kemarin) alat-alat diangkut semampunya. Benar-benar tidak ada toleransi," keluh Markoni.
Selain di Jalan Dr Sardjito, proses penataan trotoar juga dilakukan di sepanjang Jalan Kahar Muzakir. Pada lokasi itu, kios-kios buku yang berdiri di atas trotoar ditertibkan dan dipindahkan ke Pasar Terban.
Baca Juga: Rekomendasi Me Time yang Nyaman untuk Dicoba
Salah satu pemilik kios buku, Sutoto mengaku cukup khawatir dengan relokasi dapat membuat pelanggan lari. Oleh karena itu dia berharap ada promosi di Pasar Terban bagi para penjual buku.
“Di lokasi ini (Jalan Kahar Muzakir) kan sejak 1989 jadi pelanggan udah pada hafal, kami ingin nanti disana (Pasar Terban) ada promosi supaya tahu kalau kami itu pindah,” harapnya. (inu/pra)
Editor : Heru Pratomo