JOGJA - Musim panen durian tahun ini menghadapi tantangan serius seiring tingginya intensitas hujan di sejumlah wilayah. Curah hujan yang datang pada fase krusial pertumbuhan durian dinilai berpotensi mengganggu proses pembungaan, pembuahan, hingga kualitas buah saat panen.
Dosen Agroteknologi UPN Veteran Yogyakarta (UPNVY) Dr Ir Tuti Setyaningrum menjelaskan, durian merupakan tanaman yang sangat sensitif terhadap pola hujan. Terutama pada fase induksi bunga hingga pembentukan buah.
"Dalam proses pembungaan dan pembuahan, hujan sangat berpengaruh. Durian butuh periode kering sekitar 2-4 minggu untuk merangsang pembungaan. Jika curah hujan tinggi, pohon justru aktif menumbuhkan daun dan tunas, jadi pertumbuhan generatif terhambat dan bunga sulit muncul," ujarnya kepada Radar Jogja Minggu (11/1).
Menurut Tuti, hujan lebat yang disertai angin juga dapat menyebabkan bunga rontok atau rusak. Selain itu, kelembapan tinggi memicu munculnya penyakit jamur seperti antraknosa dan phytophthora pada bunga durian.
Risiko lain muncul pada proses penyerbukan yang umumnya berlangsung pada malam hari.
"Penyerbukan durian dibantu kelelawar dan serangga. Jika hujan terjadi malam hari, aktivitas penyerbuk menurun dan ini bisa menyebabkan gagalnya penyerbukan," jelasnya.
Tak hanya pada fase berbunga, dampak hujan tinggi juga berlanjut saat pembentukan buah. Kondisi tanah yang jenuh air menyebabkan akar kekurangan oksigen dan memicu ketidakseimbangan hormon tanaman.
"Dampak negatifnya, antara lain, gugur buah muda, busuk buah, hingga penurunan kualitas. Buah bisa menjadi lebih berair, rasa manis berkurang, dan aroma tidak sekuat kondisi normal," kata Tuti.
Ia menyebut, secara umum curah hujan tinggi dapat menurunkan jumlah bunga hingga 30-70 persen dan keberhasilan buah jadi sebesar 40-80 persen. Angka itu bervariasi tergantung varietas, kondisi drainase, dan pengelolaan kebun.
Berdasarkan pengalaman lapangan dan fisiologi tanaman durian, Tuti menegaskan risiko paling sering muncul akibat hujan adalah kerontokan bunga dan buah muda.
"Kerontokan bunga dan buah muda merupakan risiko utama dan paling luas dampaknya. Produksi bisa turun 50 sampai 80 persen saat hujan intensif terjadi di hampir semua kebun," ungkapnya.
Risiko lain adalah buah gagal berkembang secara optimal, ditandai dengan ukuran kecil, pertumbuhan lambat, dan panen tidak seragam.
Sementara buah busuk relatif lebih jarang, tetapi menimbulkan kerugian besar karena umumnya menyerang buah yang sudah besar dan siap panen.
Curah hujan tinggi juga berdampak langsung pada mutu durian yang dihasilkan. Menurut Tuti, hujan yang terjadi saat fase pembesaran dan pematangan buah membuat kadar gula menurun.
"Durian di musim hujan cenderung lebih tawar, kurang legit, aromanya melemah, dan teksturnya lebih lembek dan berair. Berbeda dengan kondisi hujan rendah, yang menghasilkan daging buah padat dan creamy," jelasnya.
Selain itu, Tuti menilai potensi panen raya tahun ini berisiko terganggu jika hujan tinggi terjadi pada fase pembungaan dan pembentukan buah. Dampak yang paling sering muncul adalah penurunan jumlah buah panen dan kualitas premium.
"Penurunan produksi 30-60 persen cukup sering terjadi. Panen juga menjadi tidak serempak, dengan kualitas buah lebih banyak masuk kelas sedang, bukan premium," ujarnya.
Ia menegaskan, waktu datangnya hujan menjadi faktor penentu. Hujan sebelum berbunga berisiko menggagalkan munculnya bunga, hujan saat bunga mekar menggagalkan penyerbukan, sedangkan hujan pada 0-30 hari setelah buah terbentuk memicu gugur massal.
Untuk mengurangi risiko gagal panen, petani didorong melakukan langkah pencegahan sejak awal. Fokus utama diarahkan pada pengelolaan air, tajuk tanaman, nutrisi, dan pengendalian penyakit.
"Teknologi budi daya sangat efektif dalam memitigasi risiko akibat hujan. Bahkan bisa menyelamatkan 50-80 persen potensi panen bila diterapkan dengan benar dan tepat waktu," kata Tuti.
Perbaikan drainase dinilai sebagai langkah paling krusial, disusul pengendalian penyakit secara preventif, pemangkasan tajuk untuk menurunkan kelembapan mikro, serta pengaturan pembungaan melalui manajemen air dan nutrisi.
Namun demikian, Tuti mengingatkan teknologi tidak bisa sepenuhnya menghilangkan risiko jika hujan ekstrem terjadi dalam waktu lama. "Dalam kondisi hujan ekstrem dan terus-menerus, teknologi hanya mampu mengurangi kerugian, bukan menghilangkan risiko total," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun