JOGJA - Masa kepemimpinan Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mulai menunjukkan gebrakan. Salah satu yang telah direncanakan tahun ini adalah pendirian Warung Milik Rakyat (Wamira).
Hasto mengatakan, Wamira merupakan pengembangan dari Warung Segoro Amarto yang selama ini terbatas di pasar-pasar tradisional. Pada tahun ini, program itu ditarget ekspansi secara masif ke 14 kemantren dan bertahap di 45 kelurahan di Kota Jogja.
Program ini akan dikemas seperti unit usaha toko modern. Tetapi berbeda dengan konsep Toko Milik Rakyat (Tomira) yang menjadi warisan Hasto di Kulon Progo.
Wamira tidak akan menggandeng perusahaan toko modern. Namun bakal berdiri sendiri lewat pengelolaan koperasi pegawai pemerintah kota (pemkot).
"Kita tidak boleh kalah dengan waralaba berjejaring yang berbasis ekonomi kapitalis. Kita harus punya yang menyaingi dengan ekonomi berbasis gotong royong,” ujar Bupati Kulon Progo periode 2011-2019 ini saat ditemui di Balai Kota Jogja, kemarin (8/1).
Hasto menjelaskan, Wamira dirancang agar masyarakat bisa mendapatkan kebutuhan sehari-hari dengan harga lebih terjangkau dibandingkan toko waralaba. Program ini akan bekerjasama dengan PT Jogjatama Vishesha sebagai distributor kebutuhan pokok.
Lewat kemitraan dengan salah satu BUMD itu, Hasto yakin rantai distribusi bakal lebih jelas. Bahkan tidak menutup kemungkinan dapat memangkas berbagai biaya operasional. Sehingga berdampak pada harga jual kebutuhan pokok lebih murah.
Politisi yang lahir 30 Juli 1964 itu juga yakin Wamira bisa tumbuh subur di Kota Jogja. Pun Pemkot Jogja juga telah memiliki Korpri Yogyakarta Official Store (KYOS) sebagai salah satu percontohan unit usaha toko modern.
"Pendapatan asli daerah Kota Jogja mayoritas naik lewat belanja makanan dan minuman, sehingga sangat strategis kalau itu kita ikut kuasai,” tandasnya. (inu/laz)