SLEMAN - Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan survei kepuasan masyarakat terhadap penyelenggaraan dan pelayanan transportasi pada angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Hasilnya, 87 persen masyarakat Indonesia menyatakan puas terhadap pelayanan trasnportasi selama angkutan Nataru.
Pakar Transportasi UGM Zudhy Irawan mengatakan, survei tersebut dilakukan pada sebanyak 9.999 responden. Tersebar di 25 wilayah yang menggunakan bandara, pelabuhan, terminal, stasiun, hingga rest area. Survei dilakukan pada empat aspek yakni prasarana, sarana, manajemen trasnportasi dan kebijakan.
Baca Juga: Mantan Lurah Caturtunggal Agus Santoso Masih Jalani Hukuman Terkait Penyalahgunaan TKD, Ganti Divonis Penggelapan Uang
"Ada enam kelompok responden yakni pengendara motor dan mobil, bus, kereta api (KA), serta angkutan sungai, danau dan penyeberangan (ASDP)," ujarnya dalam acara rilis survei di Gedung Sekolah Pascasarjana UGM Selasa (6/1).
Disimpulkan, masyarakat menyatakan puas bahkan di angka 87 persen. Kesiapan dan kebijakan sudah baik dinilai sudah baik. Hanya ada beberapa sektor yang perlu ditingkatkan. "Salah satunya berkaitan dengan kebijakan diskon, rute, jumlah armada dan sebagainya," bebernya.
Angkutan jalan untuk kendaraan pribadi menjadi aspek yang diberikan catatan. Sebab, dia menilai permintaan jauh melebihi kapasitas. Maka dari itu, diperlukan dorongan agar mereka mau menggunakan angkutan umum.
Baca Juga: Menyapa Pagi dengan Gagahnya Merapi: 6 Spot Syahdu di Kaliurang Jogja
Ia juga tidak menampik bahwa biaya transportasi di Indonesia masih relatif mahal. Ongkos transpoetasi masyarakat, hampir mendekati 20 persen dari pendapatan. "Apalagi jika menggunakan angkutan umum, akses dari simpul-simpul misalkan dari stasiun ke tempat tujuan masih dirasa cukup mahal," tegasnya.
Perbandingan perputaran ekonomi melalui transportasi dengan aspek pendukung pariwisata lain seperti penginapan makan dan sebagainya juga hampir sama. Yakni mendekati Rp 20 triliun. "Kalau dibandingkan dengan transportasi harian itu pengeluaran di sekitar 12 persen. Akan lebih baik di bawah 10 persen dengan angkutan umum," jelasnya.
Baca Juga: Rutan Kelas IIB Wates Bakal Diganti Menjadi Masjid Raya Kulon Progo
Ketua Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas memberikan kritik terhadap survei tersebut. Sebab, survei itu tidak melibatkan operator angkutan dan pihak terkait lainnya.
"Wajar jika ketika disurvei masyarakat puas semua. Hasil survei akan berbeda apabila melibatkan operator angkutan," ujarnya.
Sebab, perspektif pengguna pasti puas karena jalanan lancar, angka kecelakaan turun, dan tidak ada kebijakan yang menghambat perjalanan. "Tapi kalo operator pelaku UMKM pasti nanti hasilnya beda lagi," lontarnya. (oso/eno)