JOGJA - Musim libur natal dan tahun baru (nataru) yang biasanya menjadi ladang rezeki bagi pelaku usaha wisata tidak dirasakan pengayuh becak.
Pasalnya, persaingan transportasi yang semakin liar membuat pendapatan anjlok.
Hal itu diungkapkan Tugiman, tukang becak kayuh di kawasan Nol Kilometer ini hanya mendapat paling banyak tiga penumpang dalam sehari.
Naik sedikit, lantaran pada hari biasa hanya satu dan seringkali tidak ada penumpang.
Kondisi tersebut tentu membuat pendapatannya tidak banyak. Tugiman mengaku, sehari hanya mendapatkan omset sekitar Rp 60 sampai Rp 90 ribu.
Sebab tarif sekali perjalanan berkisar Rp 20 sampai Rp 30 ribu untuk rute dari Nol Kilometer ke Malioboro atau Keraton.
“Paling maksimal itu tiga tarikan, kalau bukan musim liburan kadang tidak dapat penumpang,” ujarnya kepada Radar Jogja, Kamis (1/1/2026).
Tugiman menyebut, sedikitnya penumpang becak kayuh di masa libur nataru ini karena persaingan usaha transportasi yang semakin liar.
Lantaran wisatawan cenderung memilih moda transportasi lain yang lebih cepat dan mudah didapat.
Bahkan dia secara khusus menyoroti mulai menjamurnya transportasi ilegal baru seperti bajaj.
Menurutnya, kendaraan bermotor roda itu kerap kali menarik tanpa menggunakan aplikasi. Sehingga membuat moda transportasi lain sulit mendapatkan penumpang.
“Mereka (bajaj) tidak pakai aplikasi, kalau ada orang berkerumun langsung menerobos dan menawarkan harga sangat murah,” beber warga Prawirodirjan, Kemantren Gondomanan ini. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita