JOGJA - Perekonomian DIJ sepanjang tahun 2025 menunjukkan kinerja positif. Badan Pusat Statistik (BPS) DIJ menyebut, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIJ atas dasar harga berlaku pada triwulan III-2025 mencapai Rp 51,97 triliun, dengan pertumbuhan tahunan year on year (yoy) sebesar 5,40 persen.
Plt Kepala BPS DIJ Herum Fajarwati mengatakan, laju pertumbuhan itu menjadi yang tertinggi di antara provinsi di Pulau Jawa. Ia menyampaikan, pertumbuhan kumulatif hingga triwulan III-2025 turut berada pada level yang kuat.
"Ekonomi DIJ tumbuh impresif sebesar 5,40 persen secara tahunan, lalu pertumbuhan kumulatif hingga triwulan III juga kuat di angka 5,34 persen," katanya Kamis (1/1).
Namun demikian, secara triwulanan atau quarter to quarter (q-to-q) ekonomi DIJ hanya tumbuh 0,23 persen, melambat dibanding periode sebelumnya. Perlambatan terutama terjadi pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang terkontraksi 6,43 persen, serta jasa lain yang turun 7,88 persen pasca periode libur panjang.
Dari sisi pengeluaran, tekanan juga datang dari penurunan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) sebesar 1,79 persen dan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PKP) sebesar 4,87 persen. Meski mengalami perlambatan jangka pendek, Herum menegaskan sejumlah sektor masih menjadi penopang utama perekonomian.
"Sektor konstruksi yang tumbuh 10,37 persen dan PMTB yang meningkat 8,02 persen berperan menjaga ekonomi DIJ tetap stabil," ujarnya.
Struktur ekonomi DIJ pada triwulan III-2025 juga masih didominasi konsumsi rumah tangga dengan kontribusi 60,92 persen, disusul Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 37,65 persen. Sementara dari sisi lapangan usaha, kontribusi terbesar berasal dari industri pengolahan, konstruksi, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Secara kumulatif (c-to-c), ekonomi DIJ tumbuh 5,34 persen. Hampir seluruh lapangan usaha mengalami pertumbuhan, kecuali sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang yang terkontraksi 1,25 persen.
Pada November 2025, inflasi year on year (yoy) DIJ tercatat 2,92 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 109,22. Inflasi terjadi akibat kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran, terutama makanan, minuman, tembakau: 4,68 persen, pendidikan: 2,28 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya: 12,45 persen, restoran/penyediaan makanan minum 1,62 persen. Sementara kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami penurunan indeks 0,01 persen.
Selain memaparkan perkembangan ekonomi 2025, Herum mengungkapkan BPS DIJ juga tengah mempersiapkan Sensus Ekonomi (SE) 2026. Kegiatan ini akan dilaksanakan medio Juni hingga Juli 2026. Sensus untuk memotret aktivitas ekonomi yang kini tidak hanya berada di bangunan usaha formal, tetapi juga merambah sektor kreatif dan digital.
"Sensus akan mencakup seluruh kegiatan ekonomi kecuali sektor pertanian, pemerintahan, dan rumah tangga," bebernya.
Melalui sensus ini, BPS berharap memperoleh gambaran menyeluruh tentang struktur ekonomi nasional, termasuk perkembangan ekonomi digital dan ekonomi ramah lingkungan.
Herum mengajak seluruh masyarakat DIJ ikut berpartisipasi aktif dalam pelaksanaannya. "BPS DIJ turut mengajak semua elemen masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam sensus ini dengan memberikan data yang sesuai," harapnya.
Pengumpulan data akan dilakukan melalui dua mekanisme, yakni kunjungan langsung petugas sensus ke rumah tangga pada Juni–Juli 2026, serta pengisian mandiri secara daring oleh perusahaan besar pada Mei 2026.
Selain itu, BPS DIJ menyebut data triwulan IV-2025 belum dirilis dan baru akan diumumkan Februari mendatang. Dengan demikian, gambaran utuh pertumbuhan ekonomi DIJ sepanjang 2025 secara keseluruhan, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 secara lebih terperinci baru akan diketahui setelah rilis resmi. (iza/laz)